TERINTEGRASI dalam persaingan global, tantangan produsen perhiasan Bali makin berat. Terutama dituntut konsisten berinovasi guna menghasilkan produk bermutu agar tetap mampu memenuhi permintaan pasar di dalam maupun luar negeri (LN). Mengapa demikian?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menyebutkan, ekspor aneka perhiasan atau permata dari Bali menunjukkan penurunan sepanjang  Juni 2017. Kepala BPS Provinsi Bali, Adi Nugroho mengatakan, Bali mengekspor berbagai jenis perhiasan senilai 4,92 juta dolar AS selama Juni 2017. Angka tersebut merosot hingga 4,463 juta dolar AS atau 47,53 persen dibandingkan bulan sebelumnya yakni 9,391,6 juta dolar AS.

Pada  Juni 2017  juga merosot 2,155 juta atau 30,42 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Itu karena pada Juni 2016 hanya sebesar 7,083 juta dolar AS. Sementara ekspor permata berupa aneka jenis perhiasan untuk wanita dari semua umur, berupa cincin, kalung, perhiasan telinga dan lainnya mampu memberikan andil 13,73 persen dari total nilai ekspor Bali mencapai 38,126 juta dolar AS merosot 12,715 juta dolar AS atau 25,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya yakni 48,050 juta dolar AS. Perolehan tersebut juga menurun 9,924 juta dolar AS atau 20,55 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, karena bulan Juni 2016, ekspor aneka jenis perhiasan itu menghasilkan 48,050 juta dolar AS. Sejumlah negara tujuan ekspor yakni Singapura mencapai 29,23 persen disusul pasar Amerika Serikat 23,34 persen.

Selain itu, perhiasan yang umumnya untuk wanita itu juga diserap pasaran Hongkong 7,15 persen, Australia 6,64 persen, Jepang 0,68 persen, Tiongkok 2,28 persen,  Prancis 1,56 persen, Belanda 3,45 persen, Jerman 4,78 persen, dan Spanyol 0,39 persen. Sementara 20,50 persen sisanya diserap berbagai negara lainnya di berbagai belahan dunia.

Owner Wirata Jewellry, Kadek Ariana baru-baru ini, menyampaikan tantangan yang dihadapi produsen perhiasan Bali lumayan berat. Terutama menyikapi selera pasar yang dinamis. Tak hanya pasar dalam negeri tapi juga LN. Perlu upaya berkesinambungan meningkatkan daya saing. Salah satunya meningkatkan kegiatan pelatihan desain dan motif agar tetap mampu memenuhi permintaan pasar. Upaya lain yang masih erat kaitannya adalah memaksimalkan sejumlah faktor produksi strategis sehingga mampu memghasilkan produk unggulan. Faktor produksi penting yakni bahan baku. Tersedianya bahan baku emas, perak, permata, dan lainnya yang memadai akan menentukan kesiapan produksi. Demikian permodalan, tenaga ahli desain serta motif, juga juru promosi yang mumpuni semua indikator tersebut akan menguatkan daya saing produk kearifan lokal Bali ini di pasar global. “Di pasar dunia permintaan umumnya dalam jumlah besar. Demikian selera pasar yang setiap saat berubah. Tanpa kesiapan produsen Bali tentu ancaman merosotnya ekspor akan terus terjadi,” katanya. (gun)