Tabanan (Bisnis Bali) –  Bisnis rumah bersubsidi memiliki peluang pasar tersendiri (khusus). Ini memungkinkan pemasok lebih fokus dalam promosi sekaligus menjaga mutu produk untuk kepuasan konsumen. Hal itu diungkapkan salah seorang praktisi bisnis properti, Adi Nugraha, Rabu (3/10) di Tabanan.

Dikatakan, rumah bersubsidi yang hanya berpeluang dibangun di beberapa kawasan kabupaten saja khususnya di Bali, juga memerlukan kesiapan mental dan material konsumen untuk mengaksesnya. Terutama kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang ada di kota sementara keberadaan rumah bersubsidi tersebut berlokasi jauh dari tempat kerja mereka. Karena itu peningkatan pasokan rumah bersubsidi layaknya diikuti ketersediaan infrastruktur yang lebih memadai sehingga menunjang mobilitas para penghuninya.

Rumah bersubsidi adalah program pemberdayaan MBR dengan menyediakan rumah temapt tinggal yang layak dan nyaman. Maka dari itu agar program ini tak melenceng sekumlah persyaratan berlaku bagi mereka yang berhak mengakses rumah bersubsidi. Diantaranya berpenghasilan Rp 4,5 juta per bulan, belum pernah punya rumah, dan mendapatkan KPR hingga 20 tahun dengan suku bunga 5 persen. Harga rumah bersubsidi di Bali Rp 141 juta dan untuk KPR telah disediakan sejumlah bank dengan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).  (gun)