Denpasar (Bisnis Bali) – Pada September 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat Singaraja mengalami deflasi 0,78 persen. Deflasi terjadi sebagai dampak penurunan indeks pada kelompok bahan makanan, khususnya disumbang oleh harga cabai rawit yang mengalami penurunan saat ini.

Kepala BPS Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Rabu (4/10) kemarin mengungkapkan, deflasi di Singaraja ini sekaligus mencerminkan bila kondisi ekonomi di kabupaten wilayah Bali Utara ini belum terkena dampak dari peningkatan status Gunung Agung.

Hal tersebut juga terjadi di Denpasar yang menjadi objek pencatatan BPS selama ini.

“Deflasi di Singaraja ini sekaligus membuat tingkat inflasi tahun kalender (Januari-September) 2017 mencapai 0,81 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2017 terhadap September2016)  mencapai 1,91 persen,” tuturnya.

Papar Adi, deflasi didorong oleh turunnya indeks yang hanya tercatat pada kelompok bahan makanan mencapai 3,75 persen, sedangkan enam kelompok lainnya mengalami peningkatan indeks atau inflasi, yakni kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 2,77 persen, kelompok kesehatan 1,41 persen, kelompok sandang 0,39 persen, kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,02 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mencapai 0,02 persen, serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,01 persen.(man)