Denpasar (Bisnis Bali) Kesulitan memperoleh pakan ternak saat musim kemarau atau dalam kondisi mengungsi seperti yang dialami masyarakat Karangasem saat ini, dapat diatasi dengan menggunakan teknologi fermentor. Wakil  Rektor I Universitas Warmadewa, Ir. I Nyoman Kaca, M.Si. memaparkan teknologi fermentor tersebut dapat membantu para petani ternak yang kesulitan memperoleh pakan hijau-hijauan sehingga sangat berguna ke depannya bagi para petani ternak.

“Teknologi fermentor ini kami berikan kepada para petani ternak yang saat ini ada di pengungsian. Dengan begitu, mereka tidak perlu menjual ternak mereka dengan harga rendah dan tidak mengalami kesulitan dalam mencarikan pakan ternak. Sejak status Gunung Agung meningkat, banyak petani ternak terpaksa menjual ternaknya dengan harga murah. Dengan memberikan pelatihan membuat pakan ternak menggunakan fermentor tersebut, kami harap pengungsi tidak lagi menjual ternaknya dengan harga murah,” tuturnya.

Teknologi ini sangat mudah dilakukan oleh para petani ternak yang tidak bisa mencari pakan hijau-hijauan untuk ternaknya.

“Untuk itu kami berikan pelatihan para pengungsi untuk memberikan treatment fermentor berupa mikrobia sehingga peningkatan kualitas jerami untuk pakan ternak sapi. Dengan demikian sapi milik pengungsi, bobot ternak tidak menurun dan peternak tidak harus menjualnya dengan harga rendah,” tandasnya.

Fermentor ini sangat mudah didapat di toko sarana produksi pertanian, meski demikian pihaknya memberikan bantuan kepada para pengungsi.

Lebih jauh Ir. I Gede Sudiarta, M.Si., dosen pertanian Unwar memaparkan, teknologi fermentor ini sangat sederhana dan dapat dilakukan dengan mudah oleh petani ternak. “Teknologi ini merupakan solusi bagi petani ternak di daerah kering, terutama saat musim kemarau. Sebenarnya hampir semua limbah pertanian bisa digunakan mulai dari jerami pagi, limbah tanaman jagung dan kacang-kacangan bisa digunakan sebagai bahan pakan ternak yang akan difermentasikan,” terangnya.

Limbah pertanian ini bisa digunakan untuk mengganti pakan hijau-hijauan yang sulit diperoleh saat kemarau atau dalam kondisi tertentu.

Dengan menggunakan teknologi fermentasi ini pakan yang berasal dari limbah pertanian tersebut bisa bertahan hingga satu bulan. “Cara pembuatannya sangat mudah, yaitu pertama siram limbah pertanian yang berupa jerami dan sisa tanaman jagung serta kacang, kemudian semprotkan dengan cairan fermentor yang telah dicampur air. Satu tutup permentor (10 ml) ditambah suplemen dengan jumlah yang sama, lalu dicampur dengan satu tangki air yang biasa digunakan untuk menyemprot hama untuk kemudian disemprotkan pada bahan pakan tadi yang ditumpuk 100 kilogram,” terangnya. Bahan tersebut kemudian didiamkan selama satu minggu untuk difermentasikan, setelah itu baru bisa diberikan kepada ternak. (pur)