BENCANA alam tak dapat dielakkan dan dihindari oleh manusia. Saat ini Bali sedang menghadapi dampak bahaya meletusnya Gunung Agung, yang sedang aktif dan berpotensi untuk erupsi. Untuk tanggap bencana alam, banyak masyarakat yang tinggal dalam jarak 3 -12 km dari Gunung Agung mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Tempat pengungsian adalah, wilayah yang aman dari bahaya Gunung Agung. Namun, tidak serta merta wilayah pengungsian akan menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali khususnya bagi anak-anak. Kita perlu memperhatikan masalah kesehatan komunitas, salah satunya penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

Berikut pembahasan tentang penyakit ISPA , yang rentan menyerang para pengungsi ditempat pengungsian.

Infeksi saluran pernafasan akut  (ISPA) adalah, infeksi saluran pernafasan yang berlangsung kurang lebih 14 hari dan menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran pernafasan mulai tenggorokan, hidung dan paru-paru, termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.

Penyebab ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri genus Streptokokus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia dan Korinebakterium, virus golongan Miksovirus, Adnovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan Riketsia.

ISPA dapat diklasifikasikan menjadi tiga menurut Depkes RI (2002) yaitu ISPA ringan dimana seseorang dikatakan menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala batuk, pilek dan sesak. ISPA sedang apabila seseorang ditemukan dengan gejala sesak nafas, suhu tubuh lebih dari 390 C dan bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok.

 ISPA berat dengan gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba, nafsu makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan gelisah. Organisme yang menyebabkan ISPA biasanya ditularkan melalui droplet.

Saat seorang pasien ISPA batuk atau bersin, droplet sekresi kecil dan besar tersembur ke udara dan permukaan sekitar. Droplet besar perlahan-lahan turun ke permukaan di sekitar pasien (biasanya dalam jarak 1 meter dari pasien). Permukaan tersebut bisa juga terkontaminasi melalui kontak dengan tangan, sapu tangan/tisu yang sudah dipakai, atau benda lain yang sudah bersentuhan dengan sekret tersebut. Cairan tubuh lain dan feses bisa juga mengandung bahan infeksius. Karena itu, ISPA dapat ditularkan oleh droplet dari saluran pernafasan atau melalui kontak dengan permukaan yang telah terkontaminasi.

Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit menurut Bloom dikutip dari Effendy (2004) menyebutkan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Selain itu sehat atau tidaknya lingkungan kesehatan suatu individu, keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri. Faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan salah satunya adalah tempat tinggal.

Menurut Suhandayani (2007) syarat-syarat tempat tinggal yang sehat harus memperhatikan; bahan bangunan (lantai, dinding, atap), ventilasi dan cahaya. Dari uraian tersebut dapat dipastikan bahwa keadaan ditempat pengungsian belum sesuai dengan syarat kesehatan. Namun, dalam hal ini pemerintah sudah berusaha menyiapkan dan menciptakan tempat pengungsian senyaman mungkin untuk ditinggali oleh para pengungsi.

Pengobatan penyakit  ISPA diantaranya: Mengatasi panas (demam), untuk orang dewasa, diberikan obat penurun panas seperti parasetamol. Sedangkan untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun, demam diatasi dengan memberikan parasetamol dan dengan kompres.Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari.

Cara pemberiannya disesuaikan dengan berat badan, pada anak dosis paracetamol berat badan x 10mg/x. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air biasa (tidak perlu air es).Sangat dianjurkan untuk bayi di bawah 2 bulan dengan demam sebaiknya segera dibawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat. (pur)