Denpasar (Bisnis Bali) – Pasca-Gunung Agung masuk status awas membawa pengaruh signifikan pada perkembangan properti, khususnya akibat dari kelangkaan mendapatkan pasir. Langkanya mendapatkan pasir saat ini kendati tidak mempengaruhi harga jual perumahan, namun profit margin yang diperoleh pengembang kian menipis.

Ketua DPD REI Bali, Pande Agus Permana Widura didampingi Sekretaris REI Bali, Tino Wijaya, Wakil Ketua Bidang Perbankan dan Pembiayaan REI Bali, I Made Indrawan dan Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha Anggota Rei Bali, I Made Sumadia, di Kantor REI, Selasa (3/10) menerangkan, efek dari status awas Gunung Agung banyak anggota yang sebelumnya mensubkan pekerjaan ke kontraktor, kini harus turun langsung akibat kelangkaan pasir sebagai bahan utama pembuatan rumah.

“Utamanya perumahan satu juta unit program rumah subsidi Presiden Jokowi. Satu sisi anggota dihadapi target membuat perumahan murah Rp 141 juta, satu sisi kondisi saat ini pasir sebagai bahan dasar sangat diperlukan,” katanya.

Seperti diketahui dengan kejadian Gunung Agung, galian C di Karangasem banyak ditutup karena demi keamanan. Kondisi ini mempengaruhi harga pasiar dan stok pasir juga langka. Akibatnya banyak anggota yang mengambil pasir dari Banyuwangi dengan harga yang tergolong mahal yaitu Rp 2,5 juta per 3,5 kubik.

Sementara di Bali, kebutuhan pasir masih ada yaitu di wilayah Songan, Kintamani. Tetapi Pande menerangkan, kendala membeli pasir di Songan yaitu akses jalan atau lokasi di situ relatif kecil sehingga mempengaruhi kecepatan mendapatkan pasir.

“Akibat kendala bahan pasir inilah pengembang menghadapi kendala harus membeli dengan harga mahal, sementara harga rumah subsidi sudah dipatok pemerintah tidak bisa naik begitu saja,” ungkapnya. (dik)