Status Gunung Agung yang hampir dua pekan masuk level IV (awas), memberi pengaruh besar terhadap aktivitas masyarakat, termasuk pula perekonomian. Salah satunya terjadinya penjualan besar-besaran terhadap hewan ternak khususnya sapi, yang daerah Karangasem menjadi populasi sapi Bali terbanyak. Akankah ini berakibat fatal pada menurunnya jumlah populasi sapi Bali?

DINAS Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali mencatat, populasi hewan ternak sapi di Bali didominasi oleh wilayah Karangasem yang pada 2016 tercatat 127.575 ekor dari total populasi sapi di Bali yang mencapai 546.370 ekor. Aktivitas Gunung Agung yang telah menunjukkan status awas ini, membuat kepanikan bagi masyarakat sekitar, khususnya di daerah yang terancam kena dampak. Hal ini mendorong masyarakat memilih untuk menjual ternaknya sesegara mungkin, walaupun dengan harga yang jauh lebih murah.

Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali, Prof. Dr. I Nyoman Suparta mengungkap adanya kejadian penjualan ternak sapi secara besar-besaran. Saat ditemui, Selasa (3/10) kemarin, dia mengaku sangat menyayangkan kejadian ini, yang bisa berdampak pada terancamnya populasi sapi Bali. “Kami mengetahui kejadian tersebut, 2 hari setelah Gunung Agung dinyatakan memasuki kondisi awas. Kami memahami kondisi masyarakat yang dalam kepanikan dan terpaksa untuk menjual ternaknya dengan harga murah atas berbagai pertimbangan terhadap kemungkinan terburuk yang akan terjadi,” katanya.

Dia mengatakan, penjualan ternak secara serempak terjadi dengan harga yang murah dengan penawaran 50 persen dari harga normal. Hal ini tentunya memberi dampak pula pada kerugian yang dialami masyarakat, yang ternak-ternaknya dibeli setengah harga. “Kami sangat tidak menduga kejadian seperti ini, dalam bencana yang terjadi, masih ada oknum-oknum yang tega memanfaatkan keadaan,” katanya.

Terkait dengan ancaman populasi sapi Bali, Suparta meyakini, kejadian ini akan berdampak pada penurunan populasi sapi Bali. Hal ini dikarenakan dalam kondisi seperti ini, penjualan ternak sapi tidak terdata dan tidak terseleksi dengan baik seperti pada hari-hari biasa. “Kalau dalam kondisi normal, sapi yang dijual diperhitungkan lebih dahulu, yang besar dijual dan yang masih kecil dipelihara. Demikian juga induknya yang masih produktif akan dipelihara sedangkan yang masa afkir boleh untuk dijual,” ungkapnya.

Kemungkinan terburuk dikatakannya, jika sapi-sapi betina produktif sampai terjual hingga keluar Bali yang tentunya akan mengancam menurunnya populasi sapi Bali. Hal ini dikatakannya akan membutuhkan waktu 1-2 tahun untuk memulihkan kembali. Demikian juga penjualan sapi jantan yang tidak terseleksi ini turut memberi pengaruh pada menurunnya populasi sapi Bali saat ini.

Dia tentunya berharap peran pemerintah untuk mempertahankan populasi sapi Bali, bagaiamana upaya yang dilakukan agar tidak ada sapi betina yang terjual terutama dibawa keluar Bali. Demikian juga dia berharap agar pemerintah mengupayakan harga sapi saat ini tidak jauh dari harga normal, meskipun turun dia berharap agar harga sapi mendekati harga seperti hari biasanya.

“Namun kami juga akui langkah-langkah pemerintah yang telah mengupayakan evakuasi ternak hingga menyiapkan pakan sudah sangat baik meskipun ada keterlambatan sehingga telah berdampak pada penjualan ternak sapi secara besar-besaran,” imbuhnya. (wid)