Denpasar (Bisnis Bali) – Peningkatan status Gunung Agung  menggugah solidaritas dari berbagai pihak termasuk dari civitas akademika Universitas Warmadewa (Unwar). Tim dari Unwar sudah terjun ke lapangan untuk membantu para pengungsi, mulai dari bantuan berupa sembako, pelayanan kesehatan hingga tanggap darurat terhadap ternak warga yang menjadi topik hangat saat ini.

 Wakil Rektor I, Ir. I Nyoman Kaca, M.Si. memaparkan, terkait dengan pengungsi pihak Unwar telah terjun ke lapangan untuk membantu para pengunsi. “Hal yang menjadi perhatian kami adalah kondisi kesehatan para pengungsi, karena kami memiliki Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan yang siap memberikan pelayanan kesehatan kepada para pengungsi. Para alumni Unwar telah melakukan dua kali pelayanan kesehatan kepada para pengungsi bekerja sama dengan berbagai lembaga kesehatan lainnya,” tuturnya. Pelayanan kesehatan tersbeut akan dilakukan secara kontinyu selama dibutuhkan para pengungsi. Begitu pula dengan bantuan berupa sembako akan terus disalurkan, namun pendistribusiannya disesuaikan dengan kebutuhan pengungsi agar tidak terjadi sembako yang membludak di lokasi pengungsian. Selain itu pihaknya juga memberikan bantuan berupa bambu dan terpal untuk membangun posko-posko.

Selain pelayanan kesehatan tersebut, Unwar juga ingin membantu para pengungsi yang selama ini resah memikirkan ternaknya, karena akibat bencana tersebut harga ternak turun jauh di bawah harga pasar. “Karangasem termasuk daerah yang populasi sapinya cukup besar, sehingga kami dari Unwar melalui Fakultas Pertanian Unwar berupaya membantu para pengungsi yang memiliki ternak dengan memberikan teknologi untuk memudahkan peternak sapi memberikan pakan ternaknya. Ini menjadi perhatian serius kami, sehingga kami memberikan pelatihan kepada peternak untuk mengolah jerami padi untuk menjadi pakan ternak,” paparnya. Karena pengungsi tidak bisa mencarikan pakan ternaknya, pihak Unwar bekerja sama dengan Dinas Peternakan untuk membantu para pengungsi dalam menyediakan pakan ternaknya.

“Pihak dinas bersama  pengungsi menyediakan jerami sebagai pakan ternak, pihak Unwar memberikan pelatihan dengan memberikan treatment berupa fermentor berupa mikrobia sehingga peningkatan kualitas jerami untuk pakan ternak sapi. Teknologi ini sangat bagus untuk membantu peternak dalam menyediakan pakan, sehingga sapi milik pengungsi tersebut bobot ternak tidak menurun dan peternak tidak harus menjualnya dengan harga rendah,” tukasnya. Dengan teknologi ini ternak sapi tidak akan mati kelaparan.

Pelatihan teknologi mengolah jerami ini menjadi pakan ini telah dilaksanakan Sabtu (30/9) di Desa Les, Kabupaten Buleleng. “Selain memberikan pelatihan kami juga menyumbangkan bahan fermentor ini kepada petani ternak yang ada di lokasi. Dengan demikian bisa digunakan, dan dapat berguna di kemudian hari karena teknologi yang kami berikan sangat mudah untuk dilakukan,” tandasnya. (pur)