Mangupura (Bisnis Bali) – Mulai 1 Oktober 2017, seluruh gerbang tol (GT) di Ruas Jalan Tol Bali Mandara 100 persen hanya melayani pembayaran nontunai. Penghapusan transaksi tunai di 20 gardu tol pada 3 GT di Pulau Dewata ini diresmikan melalui acara Fun Rally GNNT dan Kick Off 100 persen Non-tunai Jalan Tol Bali Mandara, Nusa Dua.

Direktur PT Jasamarga Bali Tol Ahmad Tito Karim, di Nusa Dua menyebutkan, tantangan selanjutnya dalam penerapan sistem transaksi ini adalah meningkatkan pemahaman para pengguna kendaraan roda dua maupun empat, termasuk trasportasi pariwisata agar terbiasa melakukan transaksi nontunai di jalan tol.

“Tantangan ke depannya adalah kita harus terus meningkatkan pemahaman agar masyarakat terbiasa melakukan transaksi nontunai,” katanya.

Ia mengakui, sosialisasi penggunaan uang elektronik cukup berhasil, terbukti dari Agustus baru melakukan penetrasi sebesar 14 persen, tapi akhir September yang lalu, sudah 44 persen dan awal Oktober ini bisa 100 persen.

Diakui, PT Jasamarga Bali Tol yang merupakan  jalan tol terapung pertama di Indonesia ini, telah melakukan sosialisasi dan kampanye besar-besaran menjelang penerapan transaksi non-tunai di seluruh gerbang tolnya. Selain itu, PT Jasamarga Bali Tol telah memastikan ketersediaan alat top-up dan GTO harus laik fungsi.

Pihaknya bekerja sama dengan sejumlah perbankan sebagai penyedia kartu uang elektronik. Kartu yang dapat digunakan di Jalan Tol Bali Mandara meliputi E-Toll dan E-Money (Bank Mandiri), Brizzi (Bank BRI), TapCash (Bank BNI), Flazz (Bank BCA), Blink (BTN), dan E-Money BPD Bali. “Hingga 29 September 2017, sudah terealisasi lebih dari 30.000 kartu uang elektronik yang terjual dan siap digunakan untuk transaksi tol,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry TZ menyatakan, keberhasilan 100 persen elektronifikasi Jalan Tol Bali Mandara perlu menjadi contoh bagi ruas jalan tol lainnya untuk segera merealisasikan transaksi nontunai sepenuhnya.

“Bali menjadi panutan, di tengah elektronifikasi nasional yang baru mencapai 49 persen. Kita harus berkolaborasi, bersama-sama mensukseskan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT),” katanya. (dik)