MANGGA gadung yang rasanya manis dan dagingnya tebal, mulai banyak dilirik untuk ditanam. Seperti halnya mangga madu dan harumanis yang banyak ditanam di pekarangan rumah, saat ini masyarakat juga mulai tertarik untuk menanam mangga gadung.

Ditemui di stan tanaman di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, Senin pagi (2/10) kemarin, Ketut Kerti mengatakan peminat bibit mangga gadung mulai meningkat. Kalau sebelumnya kebanyakan orang hanya mencari bibit mangga madu dan harumanis, saat ini banyak yang mencari bibit mangga gadung. Untuk bibit mangga gadung dibanderol dari harga Rp 25 ribu sampai Rp 70 ribu, tergantung besar kecilnya.

Pohon mangga, selain ditanam di tanah, juga dapat ditanam dalam pot (tabulampot). Dengan demikian, masyarakat di perkotaan seperti Denpasar tidak memerlukan lahan luas bila ingin memiliki pohon mangga. Bibit mangga bisa dibuat dari biji maupun dengan cara dicangkok. “Bibit yang baik dan cepat berbuah memang yang dibuat dari cangkokan. Kalau dari biji, agak lama untuk bisa berbuah,” tukasnya. Karenanya, para penjual bibit mangga, memang lebih banyak menjual bibit dari hasil cangkokan.

Untuk menanam mangga dalam pot, yang perlu diperhatikan adalah bibit pohon mangga. Pilihlah bibit yang baik bebas dari penyakit. Selanjutnya media tanam, yang digunakan adalah merupakan campuran dari tanah, pupuk kandang atau kompos dan arang sekam. Dengan perbandingan 2:1:1. Selanjutnya pilihlah pot yang tidak mudah pecah, yang ringan serta bentuknya bulat, kemudian dasar pot harus dilubangi, seukuran 1-2cm, sekitar 4-6 lubang yang fungsinya agar pembuangan air lancar.

Pada dasar pot beri pecahaan genting, bata dan serutan bekas gergajivhingga setebal 5-10cm. Ini penting dan berguna untuk proses drainase serta aliran udara. Kemudian masukkan media yaitu tanah dengan campuran pupuk kandang atau kompos serta arang sekam. “Kalau media telah siap masukan bibit atau hasil cangkokan ke dalam pot. Usahakan bidang bekas okulasi atau cangkokan masih menonjol 10-15cm di atas permukaan media,” terangnya. (pur)