Pemkab Buleleng Siapkan Posko Induk Penanganan Pengungsi

18
Rapat Koordinasi (Rakor) terbatas penanganan pengungsi Gunung Agung di Kantor Camat Tejakula, Sabtu (30/9) lalu. (ira)

Singaraja (Bisnis Bali) – Berbagai hal telah dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng secara maksimal guna membantu para pengungsi dari Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Agung. Koordinasi pun terus dilakukan untuk membantu para pengungsi ini. Salah satunya adalah pembentukan Posko Induk Penanganan Pengungsi Gunung Agung.

Hal tersebut diungkapkan Asisten Pemerintahan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Buleleng, Made Arya Sukerta, S.H., M.H., selaku Koordinator Kabupaten Penanganan Pengungsi Gunung Agung saat ditemui usai Rapat Koordinasi (Rakor) terbatas penanganan pengungsi Gunung Agung di Kantor Camat Tejakula, Sabtu (30/9) lalu.

Arya Sukerta menjelaskan, pengungsian ini akan memakan waktu yang lama. Oleh karena itu, dibutuhkan manajemen untuk mengatur pengungsi dan juga bantuan yang diterima dari para donatur maupun dari pemerintah. Pemkab Buleleng membuka posko induk yang berlokasi di Kantor BPP Kecamatan Tejakula. “Kami bentuk Posko Induk di Kantor BPP Kecamatan Tejakula. Tadi saya sudah meninjau langsung dan kantor BPP representatif untuk dijadikan posko induk,” jelasnya.

Seluruh bantuan maupun logistik akan diterima di posko induk ini. Dari sini pula bantuan akan disebarkan ke masing-masing pos pengungsian melalui koordinator wilayah yaitu camat, koordinator desa yaitu, kepala desa dan koordinator lapangan yaitu, para klian banjar dinas. Nanti permintaan logistik juga dating dari desa.

“Kami verifikasi dulu jumlah pengungsi, kami validasi dan kami akan distribusikan logistik melalui posko induk ini sehingga kami bekerja sesuai mekanisme yang kami bentuk dengan baik,” ujar Arya Sukerta.

Disinggung mengenai instruksi dari Gubernur Bali yang memerintahkan pemindahan pengungsi dari tenda-tenda pengungsian ke fasilitas umum (fasum), mantan Kepala Dinas Perhubungan ini mengungkapkan hal tersebut merupakan prioritas saat ini dan mengungsi di tenda merupakan pilihan terakhir manakala benar-benar gawat darurat.

Saat ini, menurutnya kondisi sudah semakin stabil dan para pengungsi akan di redistribusi dari tenda-tenda ke fasum yang ada. Kemudian desa yang overload, pengungsinya juga akan diredistribuskan. “Redistribusi ini sudah kita bahas dalam rakor terbatas. Kami akan rencanakan dan mappingkemampuan desa yang lain,”  ungkap Arya Sukerta. (ira)