Produksi dan Harga Garam di Tejakula Stabil

32
  I Nyoman Mungsiada, salah seorang petani garam di Desa Tejakula, Buleleng.  (ira)

Singaraja (Bisnis Bali) – Kabupaten Buleleng merupakan salah satu kabupaten di Bali sebagai penghasil garam. Seperti di Kecamatan Tejakula Buleleng, banyak ditemukan tempat produksi garam, baik yang diproduksi secara tradisional hingga modern.

Namun belakangan ini, diketahui Indonesia terjadi kelangkaan garam yang menyebabkan harga garam melonjak. Meski terjadinya kelangkaan, sejumlah petani garam, khususnya di Buleleng mengaku harga garam serta produksi tetap stabil. Hal itu diakui salah seorang petani garam, Nyoman Mungsiada, di kawasan Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Buleleng, beberapa waktu lalu.

Ditanya terkait kelangkaan garam yang terjadi belakangan ini, Mungsiada mengaku tidak mengetahui adanya kelangkaan tersebut, karena dilihat dari hasil produksi dari dulu hingga saat ini, produksi dan harga garam Tejakula tetap stabil. Bahkan dalam rentan waktu dua hari dirinya mampu memproduksi garam secara maksimal dengan rata-rata 50 kg garam dalam dua hari.

Ia mengungkapkan, untuk dapat memproduksi garam yang berkualitas, Mungsiada masih menggunakan cara tradisional, yakni dirinya masih menggunakan media tanah untuk menyaring kandungan garam dari air laut. Sementara untuk penjemuran, ia lebih memilih menggunakan palungan dari pohon kelapa. Dengan menggunakan palungan, maka kandungan air dalam garam akan terserap sehingga menghasilkan garam yang lebih baik.

Ia menambahkan, produksi garam yang dibuatnya melalui proses organik tanpa mencampurkan bahan-bahan lain, bahkan kandungan yodium secara alami sudah ada dalam garam Tejakula. Meskipun masih menggunakan cara yang sangat tradisional, namun garam yang dihasilkan tetap berkualitas tinggi. (ira)