Dari 4.982 koperasi yang ada di Bali, hampir semuanya memiliki usaha simpan pinjam. Selain simpan pinjam, jenis lainnya ada koperasi konsumen, koperasi produsen dan koperasi jasa. Usaha pertokoan masuk jenis koperasi konsumen. Namun hingga kini jarang koperasi mengelola unit pertokoan ini. Kenapa?

USAHA pertokoan khususnya produksi kebutuhan pokok sangat prospektif, apalagi yang mengelola adalah koperasi. Koperasi memiliki anggota yang sekaligus menjadi nasabah atau konsumen. Artinya, koperasi jenis konsumen memiliki peluang luas dan besar untuk berkembang pesat.

Namun kenyataannya, dari hampir 5 ribu unit koperasi yang ada di Bali, hanya kurang dari 20 persen yang mengelola unit pertokoan.

Pemerhati perkoperasian sekaligus Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kota Denpasar, I Wayan Mudana, S.E. mengakui, dibandingkan dari jumlah koperasi yang ada, jumlah koperasi konsumen (pertokoan) masih kecil. Dulu setiap koperasi justru berawal dari unit usaha perdagangan. Dulu terkenal dengan koperasi unit desa (KUD) yang menonjol usahanya jenis pertokoan. Namun lambat laun, koperasi yang mengelola pertokoan satu per satu tutup dan beralih mengembangkan unit simpan pinjam. Belakangan ini, koperasi baru khusus bergerak di usaha simpan pinjam.

”Setelah ditelusuri ternyata barang yang dijual unit pertokoan didapat dari distributor atau agen, bukan dari pabrik. Dengan demikian, harga barang sudah tinggi dan dijual kembali dengan harga mahal. Maka itu, harga barang yang dikelola koperasi hampir sama bahkan lebih mahal dari harga di supermarket, toko ataupun warung. Karena harga jual mahal, anggota beralih belanja ke supermarket, minimarket, toko dan warung,” jelasnya.

Salah seorang pengelola koperasi serba usaha, Dewa Bagus Putu Budha berharap ada yang memberikan barang dagangan pertokoan dengan harga pabrikan. Selama ini, lanjut Dewa Budha, barang dagangan yang dipajang dan dijual di unit pertokoannya didapat dari distributor atau agen sehingga harga barang lebih mahal. Kemudian, kendala di unit pertokoan adalah SDM karena persaingannya sangat ketat. Sekarang ini setiap jengkal ada minimarket dan supermarket yang jelas-jelas lebih profesional dalam hal memberikan pelayanan, mendisplai produk dan lainnya. (sta)