Deklarasi Gianyar Akhiri Konferensi ICNT di Kabupaten Gianyar

26
Sebelum upacara penutupan kegiatan dilaksanakan, sebanyak 200 peserta dari 31 delegasi dunia diajak keliling di areal Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar, Jumat, (15/9). (ad1.816)

Gianyar (Bisnis Bali) – Pelaksanaan International Conference Of National Trusts (ICNT) ke-17, di Kabupaten Gianyar memasuki hari terakhir. Sebelum upacara penutupan kegiatan dilaksanakan, sebanyak 200 peserta dari 31 delegasi dunia diajak keliling di areal Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar, Jumat, (15/9). Tak hanya menikmati setiap ornamen bangunan yang bernilai sejarah di Pura Samuan Tiga, para delegasi juga disuguhkan Tarian Kecak yang merupakan warisan budaya turun temurun.

Pada pentutupan konferensi ICNT di Kabupaten Gianyar juga dilaksanakan Deklarasi Gianyar serta penyerahan estafet tuan rumah dari Kabupaten Gianyar kepada tuan rumah pelaksanaan ICNT 2019 yakni Bermuda.Bermuda adalah sebuah wilayah seberang laut Britania Raya di Samudra Atlantik bagian utara sekitar 933 km dari pesisir Carolina Utara, Amerika Serikat.

Ketua Dewan Pembina Badan Pelestarian Pusaka Indonesia  (BPPI), Hashim Djojohadikusumo mengatakan, Deklarasi Gianyar pada hakikatnya merupakan kesepakatan bersama menjaga warisan pusaka yang termasuk di dalamnya mencakup budaya. Semua itu merupakan tanggung jawab bersama yakni, pemerintah dan masyakat luas. Tanggung jawab bersama atas pelestarian budaya termasuk bahana, alam serta satwa. Salah satu diantaranya dengan menjaga kebersihan sungai, keindahan laut serta kelestarian alam.

Bupati Gianyar, A A Gde Agung Bharata, mengatakan, konferensi ini merupakan tahap awal, kelanjutannya Pemkab Gianyar juga akan mulai meningkatkan pemahaman masyarakat terutama anak – anak tentang museum. Rencananya, kegiatan pemahaman tentang museum tersebut dimulai bulan depan dengan mendatangkan tim dari BPPI yang dimulai dari anak – anak tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), sehingga dengan memberikan pemahaman tentang museum, anak – anak dapat mengetahui peradaban masa lalu.

“Jadi museum itu tidak hanya barang mati. Museum adalah simbol – simbol wakil masa lalu sehingga kita harus ambil emosi – emosi positifnya,” terang Agung Bharata.

Bharata mengatakan, pemahaman tentang museum akan dimulai dari tingkat SMP melalui kegiatan ekstrakurikuler, sehingga anak – anak tingkat SMP tidak hanya mendapat materi pendidikan bidang keilmuan semata tetapi juga materi kebudayaan dan budi pekerti.

“SMP itu 40 persen materi pendidikan bidang keilmuan dan 60 persen budaya serta budi pekerti. Nanti akan kita konsepkan,” imbuh Agung Bharata. (ad1.816)