Gianyar (Bisnis Bali) –  Aksesori perak produk Bali hingga kini cukup diminati konsumen, baik pasar dalam maupun luar negeri. Hal itu diungkapkan Made Suteja, salah seorang perajin perak di Celuk, Sukawati, Gianyar, Jumat (15/9).

‘’Beragam aksesori perak, yakni mulai cincin, kalung, gelang hingga bros ini cukup unik dan mampu mencuri perhatian konsumen,’’ ujarnya.

Menurutnya, perhiasan yang berwarna perak akan kembali populer. Perhiasan bernuansa metal ini cocok dipadukan untuk busana adat dan mempercantik penampilan ke Pura.

Diakuinya, perhiasan cincin perak mudah untuk digunakan sepanjang hari, baik siang maupun malam hari.

‘’Aksesori yang dibeli tidak perlu mahal, tetapi yang terpenting bermodel unik. Kaum wanita dan remaja putri akan percaya diri mengenakan aksesori berbahan perak ini,’’ jelasnya. Apalagi, perak Bali kelihatan lebih mewah, karena tekstur, motif maupun ukirannya yang memang indah terlihat dengan jelas.

‘’Pemasaran perak motif tradisional Bali hingga saat ini cukup positif, baik di pasar lokal maupun mancanegara,’’ ujarnya.

Hal tersebut tak lepas dari minat dan daya beli pasar akan berbagai jenis perhiasan perak. Seperti cincin, gelang, anting-anting dan lainnya yang cukup kompetitif dibandingkan perhiasan berbahan emas.

Katanya, perhiasan perak hingga kini tetap dipilih sebagian konsumen, selain perhiasan emas. Kendati nilai investasinya tak seprospek emas, tapi untuk jangka panjang berbagai perhiasan perak cukup awet digunakan. ‘’Perawatan yang tak sulit, juga desain dan motif yang makin bersaing dengan perhiasan emas menjadikan aksesori perak tetap dipilih,’’ imbuhnya.

Apalagi, motif-motif tradisional Bali seperti, barong, rangda dan lainnya bisa makin diangkat kepermukaan. Termasuk motif dengan nilai-nilai tradisi lainnya yang diyakini tak hanya menggugah minat beli pasar lokal, tapi juga wisatawan domestik dan mancanegara.

Dari data BPS Bali, Singapura menjadi pasar terbesar perhiasan dari Bali. Sepanjang Juni 2017, pasar Singapura menyerap 29,23 persen dari total ekspor aneka perhiasan atau permata dari Bali senilai 4,927 juta dolar AS.

“Menyusul, aneka jenis perhiasan dari bahan baku emas dan perak hasil sentuhan tangan-tangan terampil perajin Bali itu ditampung pasaran Amerika Serikat sebanyak 23,34 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho di Denpasar, belum lama ini. (aya)