SORGUM batang manis bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam olahan, mulai dari batang, buah dan daunnya dapat dimanfaatkan. Karenanya, pengembangan sorgum sangat tepat terutama untuk daerah kering.
AAN Badung Sarmuda Dinata, peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali (BPTP Balitbangtan-Bali) memaparkan, untuk bibit sorgum batang manis di pasaran dijual Rp 20 ribu per kilogram. “Sorgum batang manis karena bukan hibrida sehingga petani bisa membuat bibit sendiri. Jadi pembelian bibit hanya sekali pada awal budi daya saja,” tuturnya.

Untuk membuat bibit juga sangat mudah, yaitu biji sorgum setelah panen dijemur sampai kering. “Jemur biji sorgum kira-kira 2-3 hari. Kemudian biji disosoh, baru dikemas untuk dipasarkan,” ucapnya.

Pada umumnya sorgum memiliki rasio perkecambahan yang baik selama 1-2 bulan sejak dipetik dari lahan. Penyimpanan dalam kondisi kelembaban 10-12 % masih bisa menghasilkan rasio perkecambahan 50-60% di lahan, selama belum melebihi 2 bulan sejak dipetik. Perkecambahan terjadi 5-7 hari sejak ditebar di tanah yang lembab.

Bibit sorgum menurutnya cukup banyak peminatnya, karena mulai banyak petani yang mengetahui keunggulan membudidayakan sorgum tersebut, apalagi sorgum atau gandum sering disebut sebagai kuliner yang mampu menekan risiko terkena kolesterol dan tekanan darah tinggi. Efek menguntungkan sorgum adalah karena sebagian pasokan yang kaya flavonoid, sehingga konsumsi sorgum melindungi terhadap penyakit jantung. Sorgum juga mengandung hampir 86 miligram magnesium yang melenturkan pembuluh darah, meningkatkan aliran darah dan peredaran nutrisi sambil menurunkan tekanan darah suatu kombinasi sempurna untuk kesehatan sistem kardiovaskular. (pur)