Mulai 1 Oktober 2017 mendatang, seluruh transaksi pembayaran di gerbang tol sepenuhnya dilakukan secara nontunai dengan menggunakan uang elektronik (unik). Berbagai pihak optimis pemberlakukan unik di tol per Oktober akan sukses dan proses pembayaran di ruas jalan tol akan lebih cepat. Siapa saja pendukung suksesnya transaksi nontunai di tol?

TRANSAKSI nontunai di Tol Bali Mandara secara penuh akan berlaku mulai 1 Oktober 2017 atau mendahului dibandingkan daerah lain di Indonesia yang mulai berlaku 31 Oktober 2017. Itu berarti Bali bisa dikatakan paling siap melaksanakan transaksi nontunai di tol, bahkan diharapkan bisa menjadi pilot project. Kesiapan Bali melaksanakan transaksi nontunai di tol dengan melihat kondisi masyarakat yang cukup terbuka untuk mengikuti perubahan, termasuk potensi di Pulau Dewata yang makin meningkat penggunaan unik di berbagai sektor.

Jasa Marga Bali Tol mencatat pergerakan penggunaan uang nontunai yang meningkat signifikan yakni mencapai 23 persen pada minggu kedua September 2017 atau sekitar 11.200 pengguna dari sekitar 51 ribu volume lalu lintas harian.

Selain lebih praktis dan adanya transparansi keuangan, menggunakan unik juga membuat pelayanan lalu lintas di jalan bebas hambatan itu lebih lancar dan cepat karena diklaim hanya memakan waktu dua detik, sedangkan apabila membayar tol menggunakan uang tunai, membutuhkan waktu 12 hingga 15 detik untuk roda empat.

Dirut Jasamarga Bali Tol (JBT) Akhmad Tito Karim mengatakan ada tiga hal yang mempengaruhi sukses tidaknya pelaksanaan transaksi nontunai di jalan tol. Tiga pihak tersebut harus saling bekerja sama untuk dapat menyukseskan, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Tiga pihak tersebut yaitu pertama daei JBT sebagai pihak yang mengelola, menyiapkan sarana dan prasarana dari elektronifikasi di jalan bebas hambatan tersebut.

Kedua, pihak perbankan yang menyiapkan kartu unik bagi masyarakat pengguna jalan tol termasuk kesiapan tim perbankan dalam menjual kartu, melayani dan lokasi top up, serta sosialisasi penggunaan transaksi nontunai. Ketiga, tentunya dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat harus siap menggunakan unik di tol dan sadar bila menggunakan unik banyak kemudahan akan dirasakan seperti efisien waktu.

Tito menilai, tanpa kerja sama tiga pihak tersebut, elektronifikasi tol Bali sebagai pilot project di Indonesia tidak akan berhasil.

Untuk itu, Tito menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan rencana penerapan transaksi nontunai per Oktober 2017 karena infrastrukturnya sudah disiapkan. JBT juga sudah berhasil mengujicobakan pemasangan security accces module (SAM) multi applied sehingga bank penerbit uang elektronik akan dapat menggunakan.

“Kami siapkan prasarananya, sebetulnya semua gardu tol siap dan kami ada gardu tol otomatis. Jadi setiap orang yang lewat silahkan bertransaksi secara otomatis sehingga uang tunai kurang. Intinya sudah tidak masalah,” katanya.(dik)