Denpasar (Bisnis Bali) – PLN Distribusi Bali mencatat terjadinya penurunan beban puncak atau konsumsi listrik pada 2017. Beban puncak tertinggi pada tahun 2016 mencapai 860,2 MW, sedangkan pada tahun 2017 beban puncak tertinggi hanya mencapai 847,4 MW.

General Manager PLN Distribusi Bali, I Nyoman Suwarjoni Astawa, saat ditemui Senin (11/9) kemarin mengatakan, penurunan konsumsi listrik terjadi di berbagai sektor, baik itu tarif rumah tangga maupun tarif bisnis (perhotelan). Menurutnya, penurunan konsumsi listrik pada tahun ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya musim hujan yang terjadi sepanjang tahun, sehingga penggunaan elektronik khususnya AC menurun.

“Kami juga melakukan pengecekan ke pabrik es yang ada di Sesetan. Di sana juga dikatakan produksi es menurun pada tahun ini hingga 20 persen. Hal ini terjadi karena musim hujan yang terjadi dan suhu yang dingin sehingga konsumsi es menurun,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, hal ini berkaitan dengan efisiensi penggunaan AC oleh masyarakat pada tahun ini yang banyak musim hujan. Selain itu, dia juga mengatakan, saat ini masyarakat sudah mulai sadar efisiensi penggunaan listrik seperti halnya mulai menggunakan lampu LED.

“Perilaku inilah yang kemungkinan membuat konsumsi listrik menurun pada tahun ini,” ungkapnya.

Demikian juga yang terjadi di insdutri pariwisata. Dia mengatakan juga terjadi penurunan beban puncak pada sektor tersebut, dan belum diketahui sebab pastinya. Namun dia mengatakan akan melakukan analisis langsung secara lebih dalam kembali untuk mengetahui penyebab menurunnya konsumsi listrik di Bali. “Kalau dilihat dari segi pengaruh pencabutan subsidi listrik, saya rasa tidak, karena tidak hanya tarif 900 VA yang mengalami penurunan, namun juga tarif 1.300 yang tidak ada subsidi sebelumnya,” ungkapnya.(wid)