Intermediasi Perbankan Terkesan Melempem

17

Denpasar (Bisnis Bali) – Bank yang merupakan bagian dari sistem moneter memiliki peran yang teramat vital sebagai alat kebijakan moneter. Sayangnya, dalam kenyataannya bank sebagai agen pembangunan cenderung egonya tinggi dan terkesan melempem.

Pengamat perbankan, IB Kade Perdana, di Denpasar, Senin (11/9) kemarin mengungkapkan, di tengah sistem perekonomian modern dengan kemajuan teknologi informasi yang cepat dan canggih dapat dikatakan bank masih memiliki pengaruh besar dan daya tarik kuat dalam peranannya sebagai lembaga intermediasi.

Imbuhnya, lebih dari itu, bank memiliki peran yang terpercaya dan terhormat sebagai agen pembangunan (agent of development).

“Namun, kenyataannya bank cenderung menempatkan bisnis kepercayaanya untuk memburu dan mendulang rente atau keuntungan, seharusnya hal semacam ini tidaklah dinomorsatukan,” tuturnya.

Jelas Kade Perdana yang juga mantan Dirut PT Bank Sinar, mestinya bank lebih penting melaksanakan perannya sebagai agen pembangunan agar fungsi intermediasi bisa berjalan optimal dan memadai dalam menggerakkan roda perekonomian yang sedang dihadapkan pada kondisi stagnasi. Itu sekaligus  akan memposisikan kalangan perbankan mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya pemerintah mendulang pertumbuhan yang lebih baik dan bermanfaat untuk meningkatkan maupun memeratakan kesejahteraan masyarakat.

“Patut disayangkan fungsi intermediasi perbankan nasional sangat lambat, padahal sudah didukung oleh kondisi makro ekonomi yang baik. Suku bunga acuan telah turun, inflasi yang rendah bahkan terjadi deflasi dan mata uang rupiah stabil ternyata kinerja perbankan nasional masih melempem,” ujarnya. (man)