SORGUM batang manis atau  jagung gembal yang tengah dikembangkan di Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, sudah mulai diolah petani menjadi gula cair sorgum. Pengolahan ini memberikan keuntungan lebih bagi petani di desa tersebut.
“Selain sebagai pakan ternak, batang sorgum menghasilkan cairan/nira yang bisa diolah menjadi gula cair bahkan bioetanol,” tutur AAN Badung Sarmuda Dinata, peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali (BPTP Balitbangtan-Bali).

Gula cair sorgum, katanya, merupakan salah satu produk kegiatan model pengembangan inovasi pertanian bioindustri pada agroekosistem lahan kering dataran rendah beriklim kering yang dilaksanakan di Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.

Produk gula cair sorgum ini telah dikemas dalam kemasan botol plastik isi 250 ml dan diberi label “Green Honey”. Produk ini baru dikembangkan pada 2017 ini tetapi telah terjual 65 liter dengan harga Rp 10.000/botol. “Permintaan produk ini lebih banyak datangnya dari luar Bali yakni dari Banyuwangi dan Bangil Jawa Timur,” tukasnya.

Gula cair sorgum merupakan sumber glukosa yang memiliki angka kemanisan brix yang lebih rendah dari gula pasir sehingga dipercaya cocok untuk digunakan oleh penderita diabetes. Gula ini juga cocok untuk dicampur pada minuman kopi maupun jus buah.

Green honey ini kami buat dari cairan atau nira sorgum batang manis (sorgum bicolor L. Moench). Pengolahan nira sorgum untuk gula cair memerlukan batang sorgum yang telah tua umur panennya,” terangnya.

Pada umur 75-80 hari tersebut batang sorgum memiliki kandungan gula yang paling tinggi yakni berkisar pada angka brix 11-15.

“Rata-rata batang sorgum memiliki berat 193 gram dengan produksi nira 42,21 ml atau 21,87% v/b. Batang sorgum dipres dengan alat pengepres sehingga menghasilkan nira,” tuturnya.

Nira yang dihasilkan kemudian disaring untuk menghilangkan kotoran yang terdapat di dalamnya.

Nira sorgum memiliki pH 5 sehingga dalam proses pembuatan gula cair perlu dinetralkan dengan penambahan zat kapur sebanyak 1,1% diri volume nira. “Penetralan pH ini bertujuan agar gula yang dihasilkan tidak terasa asam. Kemudian Nira yang diperoleh dipanaskan dalam wajan sehingga memiliki angka brix 60,” paparnya. Dari 10 liter nira diperoleh cairan gula 2,8 liter. Gula cair memiliki warna coklat menyerupai gula kelapa encer. Gula cair dibiarkan sampai dingin, baru kemudian dikemas ke dalam botol isi 250 ml dan diberi label. Jadi dari 2,8 liter gula setelah dikemas menjadi 11 botol.(pur)