Realisasi Rendah, Rumah Bersubsidi mesti Digenjot

27
RUMAH – Rumah murah bagi masyarakat mesti digenjot pembangunannya guna mengurangi angka backlog yang tiap tahun meningkat. (gun)

Program rumah bersubsidi diperuntukkan bagi masyarakat kecil. Karena itu, baik dari sisi syarat dan suku bunga kredit juga terbilang khusus. Bagaimana realisasi rumah bersubsidi guna mengantisipasi backlog perumahan yang dari tahun ke tahun meningkat?

RUMAH bersubsidi juga menjadi idaman masyarakat yang selama ini memang belum pernah punya rumah. Itu menjadi salah satu syarat konsumen yang berhak mengakses rumah murah senilai Rp 141 juta ini, selain persyaratan lain seperti berpenghasilan tetap Rp 4 juta per bulan. Kemudahan dari rumah bersubsidi adalah mendapat fasilitas kredit dengan persentase relatif  rendah, selain uang muka relatif rendah yakni Rp 5 juta per unit. Realisasi rumah bersubsidi yang dinilai sejumlah kalangan masih rendah disebabkan masih adanya sejumlah kendala yang dihadapi pemasok.

Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat, perolehan hasil program sejuta rumah selama kuartal I/2017 yakni 34.860 unit untuk rumah subsidi dan 7.272 unit untuk rumah komersial.
Mengutip Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanuddin menyadari perolehan tersebut masih jauh dari target 700.000 unit rumah subsidi dan 300.000 unit rumah komersial tahun ini. Terkait hal itu pemerintah masih melakukan sejumlah upaya untuk mendorong seluruh pihak terkait dalam pelaksanaan program strategis nasional ini lebih giat lagi. Pemerintah berupaya memberikan jaminan suku bunga pada kredit konstruksi hingga digit tunggal pada tahun ini. Saat ini suku bunga kredit konstruksi masih berkisar pada angka 12 persen.  Pemerintah menghitung idealnya bisa diberikan dengan kisaran 7,5-7 persen. Jika suku bunga dapat ditekan maka harga rumah juga bisa diupayakan untuk lebih rendah. Jika harga rumah bisa diturunkan daya beli masyarakat akan meningkat. Dengan begitu, tidak ada istilah lagi kaum millennial tidak bisa beli rumah.
Praktisi bisnis properti  Bali,  Dr. Dewa Putu Selawa menyampaikan, program rumah murah memang dibutuhkan guna mengurangi backlog yang mencapai 14 juta beberapa tahun terakhir. Di Bali salah satu objek potensial rumah bersubsidi yakni di Kabupaten Buleleng. Selain harga lahan relatif lebih murah dibandingkan di Denpasar dan Badung, tentu saja kebijakan daerah yang mendukung program ini amat diharapkan agar rumah bersubsidi bisa dinikmati masyarakat kecil.

Sebelumnya Direktur PT Skiland Development, Gede Semadi Putra menyampaikan, rumah bersubsidi pasarnya yang potensial yang berpeluang digarap maksimal oleh pengembang. Namun dalam realisasinya bukan berarti tak ada hambatan. Tak hanya menyangkut pembebasan lahan, perizinan, dan lainnya. Inilah beberapa indikator penyebab rendahnya pasokan rumah bersubsidi. Tak hanya Bali beberapa daerah di Indonesia juga masih adea terkendala harga lahan.

Owner Perum Citra Nirwana Regency, Bagio Utomo menyampaikan rumah bersubsidi saat ini memang paling prospektif walaupun berbagai kendala masih dihadapi pengembang. Sinergi dengan kebijakan daerah penting ada agar dalam pelaksanaan program rumah rakyat ini bisa maksimal. Dengan keterlibatan semua pihak diharapkan realisasinya makin bisa digenjot.  Dibandingkan realisasi 2016, menurut data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan mencatat, capaian program satu juta rumah hingga 30 Desember 2016 telah mencapai 805.169 unit rumah. (gun)