BUDI DAYA edamame atau kedelai Jepang di Bali makin berkembang. Hampir di seluruh kabupaten di Bali sudah ada petani yang membudidayakan edamame meski masih dalam skala kecil. Hal ini karena kebutuhan edamame cukup tinggi namun petani masih terkendala memperoleh bibit.

I Wayan Gede Natih, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Hortikultura – ASPE Horti Provinsi Bali menuturkan, lima tahun terakhir edamame mulai dikembangkan di Bali seperti di daerah Plaga, Bangli, Karangasem dan di seluruh kabupaten dalam skala kecil.  Karenanya, kebutuhan edamame yang sangat tinggi di Bali, belum dapat dipenuhi oleh para petani sehingga masih harus didatangkan dari Jember.

Pengembangan edamame yang masih belum optimal ini  disebabkan petani masih kesulitan mendapatkan bibit, karena belum bisa dikembangkan di Bali. “Bibit edamame masih kami datangkan dari Jember karena proses pembuatan bibit belum bisa dilakukan petani kita. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan, sehingga bibit masih harus didatangkan dari Jember,” ucapnya.

Jadi Bali masih ketergantungan pasokan dari Jember karena mereka memang profesional di bidang tersebut. Harga bibit juga cukup tinggi yaitu Rp 75 ribu per kilogram.

Terkait proses budi daya, edamame memang lebih baik dilakukan di dataran tinggi dengan udara dingin. “Edamame memang bisa ditanam dari dataran rendah hingga dataran tinggi, namun untuk hasil budi daya di dataran rendah kurang optimal. Polong yang dihasilkan lebih kecil dan kisut dibandingkan dengan budidaya di dataran tinggi,” tukasnya.

Makin tinggi dataran dan makin dingin udaranya polong yang dihasilkan makin bagus. Jadi ia menyarankan bagi petani yang ingin membudidayakan edamame sebaiknya memilih lahan di daerah yang berhawa sejuk.

Budi daya edamame tergolong berumur pendek yaitu 60 hari sudah bisa dipanen. Dari luas lahan satu are dibutuhkan bibit satu kilogram. Untuk mulai budi daya seperti biasa lahan harus diolah terlebih dahulu. “Seperti biasa lakukan penggemburan tanah dan pemupukan harus dilakukan di awal, karena kalau terlambat melakukan pemukulan setelah tanam tumbuh maka tidak akan terkejar untuk pengisian polong. Jadi polong tidak mau penuh dan menjadi kempes,” tuturnya.

Untuk pemupukan memang harus menggunakan pupuk berimbang tidak hanya pupuk kandang, karena untuk pengisian polong masih dibutuhkan pupuk NPK. Luas lahan satu are dibutuhkan 3 kilogram NPK.

Setelah lahan digemburkan lalu dibuat bedengan dengan lebar sekali 1 meter, dan jarak antarbedengan 50 cm dengan ketinggian bedengan 20 cm. Untuk jarak tanam saat musim kemarau 12 x 15 cm dan saat musim hujan dibuat agak lebar yaitu 15×20 cm. Setiap lubang diisi satu butir bibit saja.  (pur)