Produk Kerajinan Bali Terganjal Akses Pasar?

23
Suasana pameran yang diikuti para pelaku usaha di Bali. (sta)

Dalam memproduksi produk unggulan, para pelaku industri dan usaha membutuhkan berbagai aspek. Di antaranya persiapan sumber daya manusia (SDM), permodalan,  sistem dan teknik produksi sampai pemasaran. Namun, ‎produk unggulan tidak cukup berkualitas, namun perlu ketersediaan pasar yang seluas-luasnya. Apa saja yang diperlukan untuk mampu menembus pasar yang seluas-luasnya?

PEMERHATI kerajinan, Drs. I Dewa Ngurah Dharendra, M.Si,  BK.Tek. menyebutkan, sejak beberapa tahun belakangan ini, penjualan aneka kerajinan mengalami penurunan, baik penjualan lokal, domestik, maupun ekspor. Buktinya, beberapa tahun lalu banyak sentra kerajinan di Bali. Salah satunya banyak ada workshop aneka kerajinan di jalur Jalan Batubulan-Tampaksiring-Kintamani. Tetapi sejak beberapa tahun belakangan, semuanya hampir tidak ada aktivitas. Bukan hanya itu, kondisi toko seni atau artshop yang ada di kawasan pariwisata banyak yang tutup. Sebagian sudah beralih fungsi, dari toko kerajinan ke usaha dagang lainnya. Ini membuktikan, pemasaran aneka kerajinan di Bali mengalami penurunan. ”Penurunan aktivitas ekspor terjadi ke negara tujuan di seluruh dunia, bahkan ada perusahaan eksportir   sudah tutup,” kata Dharendra.

Hal sama juga disebutkan perajin patung bahan kayu albesia asal Bangli, Nyoman Lepo. Dia menuturkan, penurunan pesanan atau order aneka patung berbahan kayu albesia terjadi sejak lima tahun lalu. Sebelumnya saat order ramai,  Lepo mempekerjakan tukang buat patung sampai belasan orang. Namun sekarang pesanan hanya sedikit dan untuk mengerjakannya hanya sendirian. ”Sudah lebih dari lima tahun, penurunan pesanan kerajinan terjadi. Kondisinya sampai sekarang, karena pesanan tidak ada tanda-tanda tambahan, malah terjadi penurunan terus,” ujar Lepo sambil berharap pada asosiasi dan pemerintah membantu memasarkan aneka produk unggulan yang diproduksi pelaku usaha di Bali.

Terkait dengan produk unggulan di Bali, ‎Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Patra, S.H., M.H. menegaskan, memang perlu dibantu mulai dari hulu sampai hilir. Dari produksi, modal sampai pemasaran. Namun yang terpenting, lanjut Dewa Patra, adalah pasar. Di Bali ada 300 ribu pelaku usaha. Di antaranya sebagai produsen yang mampu menciptakan produk unggulan. Hanya setelah mampu berproduksi, produsen tidak mampu memasarkan. Ini tentu saja akan sia-sia.

”Inilah yang terjadi, sehingga banyak produsen tidak mampu beraktivitas dengan lancar karena mereka hanya mampu memproduksi tetapi tidak mampu menembus pasar, maka akan sia-sia saja. Kami terus mencarikan terobosan pemasaran baik melalui pameran lokal, nasional bahkan luar negeri. Akses pasar merupakan hilirnya keberhasilan pelaku usaha,” tegas Dewa Patra sambil menyebutkan untuk memaksimalkan pemasaran pihaknya membentuk komunitas UKM dan memfasilitasi para UKM untuk berpromosi melalui pameran. Disebutkan, di Bali saat ini ada ASUBA (Asosiasi UKM Bali).(sta)