Denpasar (Bisnis Bali) – Pada Agustus 2017, Bali mengalami deflasi perdesaan 0,16 persen. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kondisi Singaraja dan Denpasar yang mengalami inflasi pada periode yang sama. Deflasi perdesaan ini sebagai dampak dari  turunnya harga barang pada kelompok bahan makanan yang mencapai 1,00 persen dan sandang  0,09 persen.

Kepala BPS Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Kamis (7/9) kemarin mengungkapkan, indeks harga konsumen perdesaan (IHKP) dapat ditunjukkan oleh indeks harga konsumsi rumah tangga petani yang merupakan komponen dalam indeks harga yang dibayar petani. Paparnya, IHK perdesaan terdiri atas tujuh kelompok pengeluaran, yakni kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, kelompok perumahan, kelompok sandang, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga, serta kelompok transportasi dan komunikasi.

“Perubahan IHK perdesaan ini mencerminkan angka inflasi atau deflasi di wilayah perdesaan pada periode tertentu,” tuturnya.

Jelas Adi, Agustus 2017 secara umum beberapa komoditas penyumbang deflasi antara lain bawang putih, cabai rawit, dan bawang merah. Di sisi lain, kelompok komoditas yang tercatat mengalami kenaikan, yaitu makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,98 persen, pendidikan, rekreasi, dan olah raga naik 0,36 persen, kesehatan 0,29 persen, perumahan 0,16 persen, serta kelompok  transportasi dan komunikasi sebesar 0,10 persen. (man)