Pasar modal menjadi tempat investasi yang menjanjikan, termasuk bagi perempuan yang juga seorang ibu rumah tangga (RT). Ibu rumah tangga pada era saat ini tidak hanya mengurus rumah namun bisa menjadi seorang investor yang mendatangkan keuntungan. Seperti apa?

MENEKUNI pasar modal selama ini terkesan hanya bisa dilakukan oleh pria, masyarakat menengah ke atas, pebisnis atau kalangan pekerja yang memiliki finansial lebih semata. Perempuan, ibu rumah tangga, pelajar, pensiunan bisa berinvestasi di pasar modal. Untuk menjadi investor di pasar modal pun kini tidak susah lagi dan bisa dilakukan semua orang karena modal mulai Rp 100 ribu. Dengan memiliki saham berarti masyarakat bisa memiliki perusahaan tersebut. Belum lagi masyarakat bisa memilih investasi saham pada sektor lainnya seperti batubara, otomotif, maupun manufaktur.

Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Denpasar mencatat hingga 31 Juli 2017, jumlah investor perempuan dari tahun ke tahun berpeluang meningkat di pasar modal. Berdasarkan jumlah investor dari jenis kelamin, kalangan pria yang terjun di bursa Bali mencapai 4.734 orang dan perempuan 3.357 orang. Jumlah investor perempuan tersebut sudah lebih setengah dari pria dan ke depan berpeluang meningkat. Begitu pula dari jumlah rekening untuk pria hingga 31 Juli 2017 mencapai 5.496 rekening dan perempuan 3.727 rekening. Itu menunjukkan, peluang investor perempuan sangat terbuka karena mereka lebih detail mengenai pengelolaan keuangan.

“Jumlah investor perempuan kami optimis akan tumbuh ke depannya dan makin aktif serta berperan signifikan terhadap industri pasar modal,” kata Kepala Kantor BEI Denpasar, Agus Andiyasa.

Kalangan perempuan dan ibu rumah tangga di pasar modal, kata Agus, bisa mempertimbangkan pilihan-pilihan yang ada seperti berinvestasi dalam produk-produk yang dapat memberikan hasil yang baik yang dapat digunakan sebagai modal awal usaha atau bisnis baru yang dapat diwariskan ke anak-anak mereka nantinya. Ibu rumah tangga bisa mengetahui perkembangan pasar modal melalui teknologi seperti laptop, sehingga tidak perlu ke mana-mana.

“Investasi melalui saham di pasar modal ini minim risiko. Jika tidak ingin dijual sahamnya, bisa mendapatkan deviden dari perusahaan yang dibeli sahamnya,” tegasnya.

Ini pula membuat jumlah investor di Bali mengalami pertumbuhan yang positif dan meningkat dari tahun ke tahun. Hingga 31 Juli 2017, berdasarkan jumlah subrekening efek (SRE) meningkat 13 persen dari tahun sebelumnya yaitu dari 10.158 menjadi 11.524 rekening. Berdasarkan jumlah investor (SID) meningkat 15,74 persen yaitu dari 8.499 menjadi 9.837 investor.

Dari jumlah investor tersebut, kalangan ibu rumah tangga mencapai 229 orang, sedangkan tertinggi dari pegawai swasta mencapai 3.497 orang, pelajar 1.726 orang, pengusaha 1.279 orang, pegawai negeri 466 orang, pensiunan 145 orang, guru 61 orang, TNI/Polri 21 orang dan berdasarkan pekerjaan lainnya 627 orang. (dik)