Penilaian GRSSIB di RSUD Buleleng Jumlah Kematian Ibu Melahirkan Menurun Signifikan

43
Wakil Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG.,  menerima rombongan tim penilai GRSSIB 2017 Provinsi Bali di Aula Wijaya Kusuma II Gedung IGD RSUD Kabupaten Buleleng. (ira)

Singaraja (Bisnis Bali) – Jumlah kematian ibu melahirkan Kabupaten Buleleng mengalami penurunan yang sangat signifikan. Tercatat pada 2016 sebanyak 25 orang ibu melahirkan meninggal dunia baik. Sementara, sampai dengan Agustus 2017 tercatat hanya enam orang ibu melahirkan meninggal dunia.

Hal tersebut diungkapkan wakil Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG., saat ditemui usai menerima rombongan tim penilai Gerakan Rumah Sakit Sayang  Ibu dan Bayi (GRSSIB) 2017 Provinsi Bali, di Aula Wijaya Kusuma II Gedung IGD RSUD Kabupaten Buleleng, Kamis (31/8).

Wabup Sutjidra menjelaskan, angka kematian ibu melahirkan menjadi indikator daripada standar pelayanan  kesehatan di Kabupaten Buleleng. Pada 2016 tercatat 25 kematian ibu melahirkan. Namun, sampai dengan Agustus 2017 terjadi enam kematian ibu melahirkan. Penurunan angka ini sebagai hasil dari upaya-upaya yang telah dilakukan Pemkab Buleleng untuk mencegah kematian pada ibu melahirkan.

 “Artinya, upaya-upaya yang telah dilakukan baik itu dari tingkat Puskesmas kemudian sampai dengan Rumah Sakit telah menyebabkan penurunan secara signifikan angka kematian pada ibu melahirkan,” jelasnya.

Ada faktor-faktor yang menyebabkan kematian pada ibu melahirkan. Faktor tersebut terdiri dari faktor obstetri dan non-obstetri. Namun, kematian pada ibu melahirkan lebih banyak pada faktor non-obstetri seperti mempunyai kelainan pembuluh darah ataupun jantung dan hipertensi.

Menurut Wabup Sutjidra, dengan adanya peningkatan pelayanan Puskesmas, khususnya bidang promosi, pemerintah akan lebih mengedukasi ibu-ibu yang beresiko untuk tidak hamil lagi. “Kami akan edukasi ibu-ibu yang berisiko. Berisiko di sini maksudnya ibu-ibu yang anaknya sudah empat atau sudah berumur di atas 35 tahun dan ada penyakit seperti kencing manis. Kami sarankan mereka tidak hamil lagi,” ujarnya.

Ketua Tim Penilai, dr. Ni Made Laksmiwati yang juga Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Bali mengungkapkan,  GRSSIB ini diselenggarakan untuk melihat kinerja RSUD dan RS swasta di kabupaten/kota seluruh Bali dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Sejauh mana peran Rumah Sakit dalam rangka penurunan angka kematian ibu dan anak dengan melibatkan lintas profesi dan dukungan dari pemerintah daerah setempat.

Indikator dari hal tersebut adalah manajemen rumah sakit, kesehatan ibu dan anak, dukungan dari unit transfusi darah dan peran dari profesi seperti IBI dan POGI. “Kami berharap dengan kegiatan ini, angka kematian ibu dan anak bisa menurun,” ungkapnya.(ira)