BUNCIS tergolong sayuran yang konsumsinya cukup tinggi, sehingga cukup prospektif untuk dikembangkan. Untuk membudidayakan sayur yang satu ini, memang lebih cocok di dataran tinggi dan udara dingin.

Wayan Mariana, petani Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng memaparkan keberhasilan budi daya buncis  terletak pada kesungguhan untuk membudidayakannya. Buncis tumbuh pada ketinggian 1.000-1.500 meter dari permukaan laut dengan suhu 20-25 derajat celsius. Meski demikian, buncis membutuhkan cahaya matahari yang cukup banyak dengan curah hujan yang sedang.

“Untuk mulai  membudidayakanya, lebih baik pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau agar pertumbuhan pada tanaman ini bagus. Sayuran jenis ini sangat peka sekali dengan genangan air, jadi sangat cocok sekali jika membudidayakan pada waktu kemarau,” tukasnya.

Ini sangat penting diperhatikan karena jika terlalu lama tergenang air, perakaran buncis akan busuk, dan bahkan tanaman akan layu dan mati, apalagi air hujan yang mengandung asam sangat buruk untuk pertumbuhan buncis.

Ada dua jenis  buncis yaitu tumbuhnya merambat dan tegak. “Tetapi sebaiknya membudidayakan buncis yang tegak, untuk menghemat biaya. Karena tidak perlu membuat  ajir,” tukasnya.

Sebelum menanam harus dilakukan pengolahan tanah agar tanah menjadi gembur. Kemudian buat bedengan berukuran sedang yaitu lebar 1 meter tinggi 20-30 cm dan jarak tanam 30-40 cm, selanjutnya tinggal membuat lubang tanam.

“Buat lubang tanam bentuk dua baris degan jarak baris 50-60 dan di dalam baris berukuran 30 cm. Masukan bahan organik ke dalam lubang tanam, seperti  pupuk kandang, pupuk kompos atau bahan pupuk organik lainnya, berikan sedikit pupuk dasar ke dalam lubang tanam biasanya satu genggam saja sudah cukup,” ucapnya. (pur)