Cintai Lingkungan, TP PKK Gianyar  Optimalkan Pengolahan Sampah

30
Workshop Peduli Lingkungan Pengolahan Barang Bekas Menjadi Barang Jadi,di Kantor UPTD Tenaga Kerja Layanan Terpadu Satu Pintu, di Desa Buruan Blahbatuh. (kup)

Gianyar (Bisnis Bali) – Di antara beragam jenis sampah yang dihasilkan oleh industri rumah tangga, sampah plastik merupakan jenis sampah yang paling sulit untuk diuraikan oleh alam. Padahal kalau kita perhatikan, dalam keseharian kita tentu tak pernah bisa lepas dari penggunaan plastik, baik berupa kantong plastik maupun wadah atau kemasan makanan lainnya.

“Daripada saling menyalahkan berbagai pihak mengenai permasalahan lingkungan ini, alangkah lebih baik jika dimulai dari diri kita sendiri, terutama bagi yang mencintai lingkungan,” Supardi Asmorobangun, dari Rumah Kompos Padangtegal Kecamatan Ubud, pada acara Workshop Peduli Lingkungan Pengolahan Barang Bekas Menjadi Barang Jadi, di Kantor UPTD Tenaga Kerja Layanan Terpadu Satu Pintu, di Desa Buruan Blahbatuh, baru-baru ini.

Diungkapkannya, sampah bisa disiasati dengan berbagai cara agar tidak menumpuk dan mengganggu lingkungan. Dengan sedikit kreativitas dan usaha, tentunya bisa memperpanjang umur dan juga manfaat dari sampah plastik ini agar tidak menumpuk di tempat sampah.

Menurut Supardi, salah satu solusi cerdas dalam menangani masalah ini adalah mendaur ulang menjadi kerajinan yaitu, memanfaatkan atau mengolah kembali sampah plastik menjadi suatu benda yag berguna bagi kehidupan kita.

Selain Supardi Asmorobangun, nara sumber lainnya I Ketut Punia dari Pemerhati Lingkungan Desa Batubulan dan Ni Nyoman Parwati dari Bank Sampah Asri Br. Kalah Desa Batubulan. Keduanya juga menekankan pada pengolahan sampah menjadi barang-barang untuk kebutuhan sehari hari seperti tas, tempat bunga untuk sembahyang, kotak tissue dan lain sebagainya.

Selain mengolah sampah, kelompoknya Bank Sampah Dahlia Asri sudah berdiri sejak 2014 sudah aktif membeli dan menyimpan sampah dari anggotanya. Dari hasil sampah ini anggota sudah memiliki penghasilan sebagai tambahan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Sejak berdiri 2014, kami saat ini sudah memiliki 109 anggota. Lewat bank sampah selain lingkungan bersih juga bisa menambah penghasilan anggotanya,” ujar Parwati memberi semangat pada peserta workshop. (kup)