Kinerja industri perbankan (bank umum, bank syariah dan BPR) di Bali hingga Juni 2017 mengalami pertumbuhan, namun tidak tinggi. Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) tetap masih bertengger tinggi. Seperti apa?

KINERJA perbankan hingga semester I 2017 diprediksi masih dibayang-bayangi kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Kendati total aset, dana pihak ketiga (DPK) maupun kredit tumbuh namun bayang-bayang rasio kredit bermasalah yang tinggi tahun-tahun sebelumnya membuat bank berupaya keras untuk menekannya tahun ini.

Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali Nusa Tenggara menilai kinerja perbankan di Bali masih tumbuh positif, meski rasio kredit bermasalah tetap tinggi. Berdasarkan catatan OJK, kinerja perbankan yang dilihat dari aset hingga Juni 2017 total mencapai Rp 116,3 triliun atau meningkat dari Mei 2017 mencapai Rp 114,7 triliun dan Desember 2016 yang mencapai Rp 113,2 triliun.

Total penyumbang aset tersebut dari bank umum yang mencapai Rp 101,01 triliun atau naik dari Mei 2017 mencapai Rp 99,48 triliun dan Desember 2016 mencapai 98,23 triliun. Aset BPR hingga semester I mencapai Rp 13,22 triliun naik tipis dari Mei 2017 Rp 13,18 triliun dan Desember 2016. Sementara bank syariah menyumbang aset Rp 2,08 triliun naik tipis dari Mei 2017 menembus Rp 2,04 triliun dan Desember 2016 mencapai Rp 1,89 triliun.

Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra Zulmi menyampaikan, secara keseluruhan kinerja perbankan di Bali masih baik, terbukti mengalami pertumbuhan. Animo masyarakat menyimpan dana di bank juga masih baik terlihat dari pertumbuhan DPK. Total DPK perbankan hingga semester I mencapai Rp 91,83 triliun yang terbagi atas DPK bank umum mencapai Rp 82,27 triliun, bank syariah Rp 934 miliar dan BPR Rp 8,62 triliun.

DPK bank umum hingga Juni 2017 disumbang tertinggi dari tabungan yang menembus Rp 37,67 triliun, disusul deposito Rp 29,5 triliun dan giro Rp 15,09 triliun. “DPK bank umum tersebut lebih tinggi jika dibandingkan Mei 2017 yaitu tabungan mencapai Rp 36,68 triliun dan giro Rp 14,7 triliun, sementara deposito Mei 2017 lebih tinggi mencapai Rp 30,47 triliun,” ujarnya.

Begitu pula dengan total pembiayaan kredit mengalami pertumbuhan dari Rp 77,9 triliun pada Desember 2016 naik menjadi Rp 80,34 triliun pada Juni 2017. Untuk bank umum kredit tumbuh dari Rp 68,62 triliun pada Mei 2017 naik menjadi Rp 69,38 triliun pada Juni 2017. Sementara BPR dari Rp 9,3 triliun pada Mei 2017 turun menjadi Rp 9,08 triliun pada Juni 2017 namun sepanjang semester I mengalami peningkatan dari Desember 2016 mencapai Rp 9,03 triliun.

Zulmi menerangkan, tidak hanya bank umum konvensional dan BPR yang tumbuh, kinerja bank Syariah juga menggembirakan yaitu DPK naik dari 846 miliar pada Desember 2016 menjadi Rp 934 miliar. Kredit juga naik dari Desember 2016 mencapai Rp 1,78 triliun menjadi Rp 1,88 triliun pada Juni 2017.

“Sudah terbayang bila kredit naik dan DPK juga naik ini berdampak ke LDR. LDR turun dari 88,7 persen per Desember 2016 menjadi 87,49 persen per Juni 2017,” paparnya.

Dari pertumbuhan DPK tersebut, Zulmi menilai, minat masyarakat menempatkan dana masih tinggi di perbankan hingga Juni 2017. Masyarakat tetap menempatkan dananya karena dukungan suku bunga tinggi, khususnya di deposito.

“Terutama deposito yang ditawarkan BPR, sementara bank umum banyak di tabungan,” terangnya.

Terkait total NPL perbankan, diakui memang tinggi pada Juni 2017 yang mencapai 3,45 persen dari sebelumnya Mei 3,46 persen dan Desember 2016 mencapai 2,42 persen. NPL tertinggi masih disumbang BPR mencapai 7,27 persen naik dari Mei di angka 7,19 persen ataupun Desember 2016 di 4,91 persen. Bank umum NPL cukup terjaga di 2,93 persen dan bank syariah 4,12 persen. Kendati demikian, kinerja perbankan di Bali masih dalam katori wajar.

Rasio NPL tidak serta merta menjadi tolok ukur kinerja perbankan. Kinerjaperbankan tidak hanya dilihat dari NPL-nya karena banyak faktor atau rasio keuangan lainnya yang menentukan kinerja perbankan.(dik)