Perpanjangan Sertifikat Kompetensi Menuju “Good Person, Good System”

46
PERPANJANGAN - Peserta perpanjangan sertifikat kompetensi, foto bersama dengan Kabid Bina Kelembagaan Dinas Koperasi dan UKM Bali, Direktur LDP BaliCertif, fasilitator dan Asesor LSP KJK Jakarta. (sta)

Denpasar (Bisnis Bali) – Peraturan Menteri Koperasi (Permenkop) Nomor 15/2015 tentang Pengelolaan Koperasi Simpan Pinjam. Bagi pengelola koperasi wajib memiliki sertifikat kompeten.

Sertifikat kompetensi berlaku selama tiga tahun, dan wajib diperpanjang. Tujuannya untuk memaksimalkan good person and good system. Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Patra, S.H., M.H., dalam sambutannya yang dibacakan Kabid Bina Kelembagaan Koperasi, I Gede Indra, S.E., M.M., Sabtu (26/8) saat membuka Perpanjangan dan Penyegaran Sertifikasi Kompetensi Level Manajer KJK yang diselenggarakan Lembaga Diklat Profesi (LDP) BaliCertif di Hotel Quest Denpasar.

Gede Indra yang didampingi Direktur LDP BaliCertif, Drs. I Gede Suriadnyana, S.E., menegaskan, tiap pimpinan dalam koperasi wajib memiliki pengetahuan/ilmu/pengalaman yang lebih dari bawahannya. Oleh karena itu, setiap pimpinan wajib mengantongi sertifikat kompeten. Hal ini sudah diatur dalam Undang-Undang (UU), PP, Permenkop, Perdep dan lainnya. ”Aturan ini terus berkembang, maka itu setiap pimpinan pengelola koperasi, khususnya KSP wajib mengetahui dan mematuhinya. Dalam kesempatan seperti kegiatan penyegaran dan perpanjangan sertifikasi uji kompetensi pada level manajer dan kepala cabang KSP diberikan informasi aturan baru. Selain itu, kegiatan ini juga lebih memantapkan sumber daya manusia (SDM) peserta juga pentingnya mengadopsi teknologi informasi,” katanya.

Menurut Indra, ‎‎pentingnya perpanjangan sertifikat kompeten akibat koperasi selalu menghadapi tantangan internal dan eksternal. Permasalahan internal koperasi biasanya sebagian koperasi struktur modal sendiri relatif kecil jika dibandingkan modal luar. Rata rata 10-15 persen. Partisipasi anggota relatif belum optimal. Pengelola koperasi sebagian masih belum berpikir kreatif dan inovatif menghadapi rencana jangka panjang. Sementara tantangan eksternal di antaranya tingkat persaingan dengan lembaga keuangan bank dan non-bank makin ketat. Dalam tata kelola KSP adanya regulasi baru seperti penilaian kesehatan belum dipahami secara mendalam. Lainnya lembaga pesaing sudah  cepat berubah misalnya variasi produk tabungan, simpanan dan kredit serta penggunaan teknologi. (sta)