Singaraja (Bisnis Bali) –  Bali memang selalu identik dengan Hindu yang merupakan agama mayoritas warga setempat. Maka bukan hal yang asing jika tradisi dan ritual Hindu mewarnai suasana di Pulau Dewata itu.  Seperti halnya di Desa Pegayaman Sukasada, Buleleng, di tengah perbedaan agama yang mencolok, masyarakat yang tinggal di kampung Islam dapat hidup berdampingan dengan rasa toleransi yang begitu tinggi dengan masyarakat Hindu setempat. Bahkan, beberapa budaya, kesenian yang terdapat di Pegayaman merupakan hasil akulturasi dari kebudayaan dan kesenian masyarakat Hindu setempat.

Salah satu kesenian yang telah berakulturasi dengan budaya Hindu di Bali adalah kesenian Burdah. Kesenian Burdah merupakan Qasidah berisi syair berbahasa Arab tentang pujian, sholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadikannya sebagai luapan kerinduan kepada Nabi.

Lalu bagaimana dengan Burdah di Desa Pegayaman? Burdah di Pegayaman merupakan sebuah kesenian musik yang melantunkan syair-syair pujian berbahasa Arab, hanya saja dalam melantunkan syairnya memiliki kesamaan dengan mekidung Bali.

Menurut Ketua Sekaa Burdah Burak, Muhammad Suharto, sangat sulit untuk mempelajari syair-syair yang terdapat dalam kesenian Burdah karena merupakan lagu-lagu kuno. “Kalau mau belajar memerlukan ketekunan yang cukup ekstra untuk paham syair-syair lama tersebut,” ungkapnya.

Masyarakat Desa Pegayaman yakin bahwa Burdah telah masuk ke Bali sejak ratusan tahun silam, saat Buleleng menjadi dermaga terbesar Nusa Bali untuk kapal-kapal pedagang bangsa asing. Ditambahkan Suharto belum ada catatan sejarah pasti mengenai kapan kesenian Burdah masuk ke Bali. Hanya saja setelah dilakukan identifikasi dari ciri-ciri fisik, kesenian Burdah yang dilantunkan menggunakan alat musik rebana ini memiliki bentuk rebana yang sama dengan dengan rebana dalam kesenian Burdah di Aceh. “Ada kemungkinan penduduk Bugis yang ada di Buleleng merupakan pendatang Bugis yang ada di Aceh sekitar 200 hingga 300 tahun lalu,” ungkapnya.

Selain dilantunkan dengan nada mekidung, kesenian Burdah di Pegayaman juga memiliki keunikan dari kostum yang digunakan. Para anggota sekaa (kelompok) Burdah yang merupakan laki-laki menggunakan busana khas Bali. Secara sederhana Suharto mengatakan jika hal tersebut merupakan kebijakan kearifan lokal dengan standar toleransi. “Ini merupakan sebuah toleransi dari sebuah budaya, di mana Pegayaman itu merupakan Islam yang ada di Bali,” katanya.

Inilah yang membuat Burdah di Pegayaman sangat menarik bagi orang-orang, meski mengikuti budaya Bali akan tetapi tidak mengubah asas dasar aqidah Islam. Sebab masyarakat Pegayaman tetap menjunjung tinggi adat berpangku sharat. “Semua adat-adat yang masuk ke Pegayaman sudah disaring dan tidak bertentangan dengan aqidah Islam,” pungkasnya. (ira)