DI era globalisasi ini, peran wanita tidak hanya sebagai ibu rumah tangga. Wanita kini banyak terjun di dunia usaha dan secara tidak langsung ini menghapus kesenjangan peluang ekonomi. Seperti apa?

Berdasarkan data IFC pada 2016 dengan judul “UKM yang Dimiliki Wanita di Indonesia” menunjukkan 51 persen bisnis mikro dan kecil di Indonesia dimiliki oleh wanita, tetapi hanya 34 persen yang memiliki bisnis dengan ukuran menengah. Selain itu, ada fakta menunjukkan 47 persen wanita pengusaha Indonesia jarang memanfaatkan teknologi, seperti komputer, dalam mengembangkan bisnis mereka.

Begitu pula informasi data terkait perempuan dan UMKM di Indonesia berdasarkan sambutan Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di acara Konferensi Womenwill Jakarta, 17 Mei 2017 menyebutkan, data dari BPS menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan lebih kecil daripada laki-laki. Pada 2014, TPAK perempuan sebesar 50,22 persen dibandingkan laki-laki sebesar 83,05 persen. Dari total penduduk perempuan yang bekerja, terdapat 28,85 pekerja pekerja perempuan yang tidak dibayar, termasuk di dalamnya pekerja keluarga yang tidak mendapat imbalan jasa.

Data juga menunjukkan 43 persen dari pemilik usaha kecil dan menengah adalah perempuan, namun lebih terkonsentrasi di usaha kecil, yang menyumbangkan produk domestik bruto (GDP) sebesar 56,5  persen dan sektor ini didominasi pula dengan penyerapan tenaga kerja untuk sektor usaha sebesar 66,7 persen, (BPS;2014).

Data lain menunjukkan, meski perempuan di Indonesia sudah terkoneksi teknologi informasi dengan baik, tetapi tidak menggunakan potensi internet secara maksimal, 47 persen perempuan tidak menggunakan teknologi untuk bisnisnya dalam arti penggunaan terbatas. Sementara 32 persen perempuan tidak tahu bagaimana menemukan apa yang mereka inginkan di internet dengan kata lain pengetahuan yang terbatas (IFC & USAid Report 2016).

Secara umum, perempuan pelaku UKM mengharapkan adanya pelatihan komputer dan internet, terutama cara pembuatan website dan pemasaran produk melalui interenet. Pelatihan diharapkan dapat dilakukan secara berulang, lama waktunya 2-3 jam setelah makan siang atau sore, dan tempatnya tidak terlalu jauh dengan lokasi mereka tinggal seperti di Balai RW atau sanggar. (Sumber: Kajian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak)

Sementara, bila melihat perkembangan ekonomi ke depan, dengan pertumbuhan angkatan kerja 2-2,5 juta per tahun maka diperlukan penyerapan tenaga kerja yang cukup besar dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 10 persen per tahun. (Sumber: Sambutan Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI pada acara Konferensi Womenwill Jakarta, 17 Mei 2017).

Berdasarkan data tersebut, Head of Public Policy and Government Relations Google Shinto Nugroho mengatakan, Google menggelar konferensi Womenwill. Konferensi yang membahas pengembangan bisnis kecil milik wanita.

“Objektif dari Womenwill Indonesia adalah menghapus kesenjangan peluang ekonomi. Banyak wanita Indonesia yang ingin berbisnis, namun tidak tahu harus memulai dari mana atau dengan cara apa,” ungkapnya. (dik)