Peringatan HUT Kemerdekaan RI Wabup Mahayastra Dorong Pembangunan Infrastruktur

622
Rangkaian kegiatan Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke – 72 di Kabupaten Gianyar. (kup)

Gianyar (Bisnis Bali) – Sebanyak 28 orang narapidana tahanan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Gianyar mendapatkan remisi umum pada peringatan Hari Kemerdekaan RI di Kabupaten Gianyar. Dua diantaranya dinyatakan bebas.

Surat Keputusan (SK) remisi diserahkan oleh Wakil Bupati Gianyar, I Made Mahayastra, kepada dua orang perwakilan narapidana pada acara resepsi dan tatap muka dengan Legiun Veteran Kabupaten Gianyar di Balai Budaya Gianyar, Kamis (17/8). Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan Peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI, yakni sebelumnya dilaksanakan apel peringatan di Lapangan Astina Gianyar.

Sejumlah veteran pun tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Mulai dari pelaksanaan apel hingga resepsi yang diawali dengan pemotongan tumpeng oleh Wabup Mahayastra didampingi Ketua DPRD Gianyar, I Wayan Tagel Winarta, Anggota Forkomindo Kabupaten Gianyar, Ketua Pengadilan Negeri Gianyar serta Komandan Yonzipur 18 YKR. Selanjutnya, para veteran yang hadir juga diberikan bingkisan sebagai ucapan terima kasih atas jasa – jasa yang telah dilakukan.

Ketua Panitia, Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra, I Wayan Suardana, S.Sos., M.A.P., mengatakan, berbagai kegiatan dilaksanakan pada bulan Kemerdekaan RI ke – 72 di Kabupaten Gianyar  mulai 1 hingga 31 Agustus 2017. Kegiatan diawali dengan kebersihan, menghias kantor dan tempat umum serta pemasangan umbul – umbul merah putih di sepanjang Jalan Ngurah Rai dan Lapangan Astina.

Kegiatan bidang olahraga, dilaksanakan Car Free Day Spesial Kemerdekaan, lomba gerak jalan putra/putri tingkat SD, SMP, SMA/SMK. Sementara kegiatan dalam bidang sosial, umum dan pemberdayaan masyarakat dilaksanakan lomba teknologi tepat guna antar kelompok masyarakat, lomba kebersihan antar kantor, gemar membaca serta pedanan bagi masyarakat umum yang dilaksanakan seusai pelaksaaan apel.
“Bidang kesehatan, juga dilaksanakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat umum, PNS dan veteran. Acara hiburan seperti wayang kulit, calon arang serta tabuh kreasi juga akan mengisi rangkain kegiatan bulan kemerdekaan tahun ini,” ucap Suardana.

Bupati Gianyar Periode 2008 – 2013, Tjokorda Oka Ardana Sukawati ditemui seusai apel mengatakan, beberapa tahun ini pembangunan fisik di Kabupaten Gianyar telah terlaksana dengan baik begitu juga pembangunan mentalnya. Tokoh Puri Ubud yang akrab disapa Cok Ace ini berharap disisa waktu 1 tahun ke depan masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati saat ini, jika ada program – program yang belum terselesaikan supaya segera diselesaikan.

Sementara itu, Wabup Mahayastra, mengatakan, pembangunan di Kabupaten Gianyar saat ini merupakan kelanjutan dari program bupati sebelumnya. Seperti misalnya pembangunan infrastruktur jalan di pedesaan. Dimana sebelumnya hanya mengandalkan dana DAK ditambah dana perawatan, namun di era Cok Ace melonjak hingga di atas Rp 100 miliar anggaran yang dialokasikan untuk jalan. Di 2018, 95 persen pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Gianyar dapat diselesaikan kecuali jalan – jalan yang baru dibuka. Pembangunan di bidang mental, indeks pembangunan manusia di Kabupaetn Gianyar mengalami peningkatan. Rasio ketimpangan masyarakat di Bali, ketimpangan antara masyarakat miskin dengan masyarakat kaya, Gianyar paling tipis ketimpangannya. Ini menunjukkan secara umum masyarakat Gianyar sudah merasakan efek dari pembangunan selama ini dilaksanakan.

Mahayastra menambahkan, peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI wajib dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada jasa – jasa para pejuang kemerdekaan sekaligus sebagai instrospeksi diri atas apa yang telah kita berikan untuk bangsa ini. Tema “Indonesia Kerja Bersama” hendaknya dapat menjadi motivasi untuk mengisi kemerdekaan sesuai swadharma masing – masing. Sehingga apa yang menjadi cita – cita para pendiri bangsa dan cita – cita semua dapat terwujud.
“Tantangan yang kita hadapi sebagai generasi penerus terus berkembang. Seperti cobaan – cobaan untuk memecah persatuan dan kesatuan bangsa dengan memunculkan konflik SARA. Hal ini harus kita sikapi dengan menghayati kembali empat pilar kebangsaan sebagai pemersatu kita sebagai Bangsa Indonesia,” tegas Mahayastra. (kup)