Macet dan Sampah, Momok Pariwisata Bali

126
JALAN - Bali memerlukan jalan layang untuk menekan angka kemacetan di kawasan sentral pariwisata.  (kup)

Denpasar (Bisnis Bali) – Rintangan harus dihadapi pariwisata Bali dalam mempertahankan penghargaan destinasi terbaik dunia, di antaranya masalah kebersihan (sampah) dan masalah kemacetan. Kadispar Bali, AA Gede Yuniartha Putra, Jumat (18/8) mengatakan, masalah kemacetan ini ditangani dengan pembangunan jalan layang.

Ia mengungkapkan, masalah kemacetan di Bali harus ditangani dengan dengan berbagai cara. Pertama kemacetan ini diurai dengan mengarahkan wisatawan ke Bali Utara, Bali Utara dan Bali Barat.

Ia menjelaskan, seiring dengan upaya pemerataan pembangunan pariwisata, setiap kabupaten harus membangun destinasi. Hal ini salah satunya didorong dengan membuka desa wisata.

Dipaparkannya, untuk menekan angka kemacetan mesti dilakukan penambahan fasilitas jalan. Jika masalah kemacetan ini tidak ditangani maka Bali akan ditinggalkan oleh wisatawan. Kawasan yang berpotensi dituju wisatawan di antaranya 10 kawasan Bali baru yang sedang dikembangkan di Indonesia.

Lebih lanjut dikatakannya, sementara ini wisatawan yang berlibur ke Bali  mengeluhkan ketidaknyamanan akibat kemacetan. Seperti dari Denpasar ke Ubud harus ditempuh 2-3 jam. Ketika mengeluhkan kemacetan, wisatawan mancanegara ini diarahkan ke Gili Trawangan dan dan Labuan Bajo. Kedua kawasan ini masih terbebas dari masalah kemacetan.

Ia menegaskan, ketika Bali menangani masalah kemacetan, Bali akan ditinggal wisatawan. Pemerintah bersama komponen masyarakat dan pelaku pariwisata harus bersama-sama memikirkan penyiapan fasilitas jalan guna menekan angka kemacetan.

Menurutnya, Bali sudah saatnya memiliki fasilitas jalan layang (fly over) guna menekan angka kemacetan. Penambahan jalan darat sudah tidak mungkin karena pembebasan tanah terlalu mahal karena tingginya harga tanah. (kup)