Kinerja Tumbuh, 10 Persen Koperasi di Bali justru Sakit

101
Sejumlah kalangan koperasi terus berupaya mendekat ke anggota, salah satunya dengan penambahan kantor cabang (man)

Bayang-bayang kelesuan ekonomi Bali tak membuat kinerja koperasi di Pulau Dewata menjadi menurun. Ini dibuktikan dengan pertumbuhan pada semester I 2017 hanya 5,81 persen atau melambat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 6,46 persen. Namun, apakah dengan kinerja koperasi di Bali yang menggembirakan, tak ada lagi koperasi yang dibubarkan karena sakit?

PERAN koperasi dalam memajukan perekonomian masyarakat dari dulu hingga saat ini sangatlah banyak. Sebab, adanya koperasi masyarakat dapat meminjam atau berdagang pada koperasi tersebut. Tidak hanya itu, peranan yang dilakukan koperasi juga dapat membantu negara untuk mengambangkan usaha kecil yang ada di dalam masyarakat.

Kondisi itu sejalan dengan fungsi dan peran koperasi yang membangun, mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya. Selain itu, koperasi ikut berperan secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat, serta memperkokoh perekonomian masyarakat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya.

Kondisi tersebut kemudian membuat pertumbuhan usaha koperasi di sejumlah daerah menjadi subur. Banyak koperasi melakukan pengembangan dengan memiliki banyak kantor cabang sebagai upaya guna makin mendekatkan koperasi kepada para anggotanya. Kondisi tersebut tentunya seiring dengan dukungan kinerja koperasi bersakutan yang sehat.

Menurut Kabid Bina Kelembagaan Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, I Gede Indra, S.E., M.M., saat ini memang secara umum ekonomi nasional mengalami kelesuan. Namun, posisi Juni 2017 kinerja koperasi di Bali secara umum mengalami peningkatan, bahkan peningkatan tersebut berlaku juga pada volume usaha juga naik hingga Rp 10, 9 triliun. Imbuhnya, begitu juga capaian sisa hasil usaha (SHU), penyerapan tenaga kerja juga meningkat.

Bercermin dari kondisi tersebut, bayang-bayang kelesuan ekonomi tidak berpengaruh terhadap koperasi di Bali saat ini. Itu karena keberadaan koperasi di Bali cukup “lentur” atau bisa menghadapai kondisi ekonomi dan ketatnya persaingan yang ada saat ini. Seiring dengan keberadaan koperasi di Bali selama ini yang memang dekat dengan karakter anggotanya.

“Pencapaian tersebut berkat dukungan dari seluruh anggota maupun komitmen dari segenap pengurus, pengawas maupun pengelola koperasi selama ini,” tuturnya.

Sebagai gambaran, jelas Indra, posisi Juni dari jumlah koperasi di Bali yang total mencapai 4.980 unit usaha, dari jumlah tersebut keanggotannya sudah mencapai 1.706.000 orang. Asumsinya, dengan jumlah tersebut dikaitkan dengan jumlah penduduk Bali yang berada di kisaran 4 juta jiwa, sedangkan penduduk dewasa sekitar 2 jutaan. Artinya, ada 50 persen penduduk Bali yang sudah ikut bergabung sebagai anggota koperasi.

“Kami berharap dengan adanya koperasi yang berkualitas terus meningkatkan kinerjanya. Di antaranya, peningkatan jumlah anggota,” ujarnya. (man)