Pasar Rakyat ’’Rurung Rame” Lestarikan Kearifan Lokal

109
Pasar rakyat bertema Rurung Rame. (kup)

Gianyar (Bisnis Bali) – Rurung atau gang di Bali dahulu memiliki fungsi sosial yang cukup sentral bagi masyarakat Bali dalam berinteraksi satu sama lain. Rurung adalah jalan tradisional yang merupakan ruang multifungsi, tidak sekadar sebagai jalan. Seiring kemajuan zaman, rurung mulai berubah secara fisik (beraspal) dan fungsi sosial rurung mulai hilang. Rurung sekarang hanya berfungsi sebagai jalan, tidak lagi menjadi tempat nongkrong dan bersosialisasi.

Ketika rurung setahap demi setahap disulap menjadi jalan raya, maka di saat yang sama tergusur pula ruang multiguna ini. Perkembangan zaman dan teknologi juga berdampak pada aktivitas masyarakat Bali yang makin padat, tuntutan ekonomi yang tinggi membuat masyarakat harus bekerja tak mengenal waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Waktu yang tersedia berkurang dan terbatas, ini mengakibatkan masyarakat berangsur-angsur meninggalkan kebiasaan nongkrong di rurung.
Mengingatkan rurung sebagai ruang multifungsi, Sekeha Teruna (ST) Eka Susila Banjar Buda Ireng, Desa Batubulan Kangin, Sukawati mengadakan pasar rakyat bertema “Rurung Rame”.

Kegiatan tersebut digelar di sepanjang rurung/gang di balai Banjar Buda Ireng selama 2 hari, 15-16 Agustus. Pasar rakyat tersebut diikuti 20-an orang pedagang lokal yang berjualan kuliner, produk fesyen, aksesori, dan sebagainya. Di pintu masuk lokasi, dipasang arena bermain anak yang membuat kegiatan pasar rakyat ini makin semarak dengan teriakan gembira anak-anak yang asyik bermain.
Pada acara pembukaan pasar rakyat, ketua panitia sekaligus ketua ST Eka Susila, I Wayan Oka Supriadi mengatakan, pasar rakyat ini diadakan dengan tujuan membangkitkan dan menumbuhkembangkan aktivitas kepemudaan, menjaga persatuan dan kesatuan pemuda, membangkitkan ekonomi kerakyatan dengan memberdayakan para pedagang di lingkungan Desa Batubulan Kangin serta melestarikan kearifan lokal, pembelajaran manajemen dan pembelajaran membangun relasi. (kup)