Di era teknologi informasi seperti saat ini, sinyal telekomunikasi punya arti penting bagi hajat hidup orang banyak. Perebutan sinyal di udara bak peperangan menuju ponsel-ponsel di tangan warga. Fenomena ini dirasakan masyarakat di perbatasan Republik Indonesia (RI). Kedaulatan NKRI harga mati. Itulah yang ingin ditunjukkan operator telekomunikasi dengan menghadirkan akses telekomunikasi di daerah-daerah perbatasan di berbagai lokasi di Indonesia. 

HAL itu diungkapkan General Manager Sales Region Bali Nusra, Anandoz Bangsawan
Menurutnya, pembangunan suatu bangsa tak bisa dilepaskan dari pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Untuk itulah operator dengan 160 juta lebih pelanggan itu terus berkomitmen untuk memerdekakan sinyal di seluruh Nusantara hingga pelosok-pelosok. “Telekomunikasi tak cuma bisa mengangkat aktivitas ekonomi, tetapi juga menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujarnya.
Terlebih, masih saja terdengar keluhan di wilayah perbatasan yang sulit mendapat sinyal selular dari dalam negeri, yang ada malah menerima sinyal dari negara tetangga dengan biaya lebih mahal.
“Hadirnya jaringan Telkomsel hingga wilayah perbatasan negara merupakan bentuk nyata komitmen kami membuka akses telekomunikasi kepada seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali. Penggelaran jaringan telekomunikasi yang menjangkau setiap jengkal wilayah Indonesia ini kami lakukan untuk memerdekakan seluruh masyarakat di NKRI dari keterisolasian komunikasi,” ungkapnya.
Akses telekomunikasi bagi masyarakat setempat juga diharapkan dapat mendorong pembangunan di daerah perbatasan, di antaranya mempercepat pertumbuhan perekonomian dan kemasyarakatan sekaligus mampu menjadi katalisator dalam mempromosikan potensi daerah, serta meningkatkan daya tarik investasi, peluang usaha, bahkan lapangan kerja baru. Di sisi lain, melihat posisi penting wilayah-wilayah perbatasan yang secara geopolitik sangat strategis, kehadiran layanan seluler di lokasi tersebut tentunya makin memperkokoh terpeliharanya NKRI sebagai negara kepulauan.
Saat ini sebanyak kurang lebih 200.000 jiwa masyarakat di Kabupaten Alor telah dilayani lebih dari 70 base transceiver station (BTS) Telkomsel. Terbukanya akses komunikasi di wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Republik Demokrat Timor Leste ini diharapkan juga dapat membantu TNI khususnya dalam menunjang berbagai kegiatan operasional tentara yang bertugas di garda terdepan.
Secara nasional, saat ini Telkomsel telah mengoperasikan 627 BTS yang berlokasi di perbatasan dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Timor Leste, Australia, Filipina, dan Papua Nugini. Dari 627 BTS yang berbatasan langsung dengan tujuh negara tetangga tersebut, 148 di antaranya merupakan BTS 3G yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam mengakses layanan data.
Dari seluruh BTS Telkomsel di perbatasan negara, 16 BTS berlokasi di Batam dan Bintan yang berbatasan dengan Singapura; 202 BTS berbatasan dengan Malaysia di Dumai, Rokan, Bintan, Karimun, Anambas, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sumatera bagian Utara, Rokan Hilir; 63 BTS di Natuna dan Anambas berbatasan dengan Vietnam, 173 BTS di Nusa Tenggara Timur berbatasan dengan Timor Leste; 64 BTS di Pulau Rote dan Maluku berbatasan dengan Australia; 70 BTS di Sulawesi Utara berbatasan dengan Filipina; dan 39 BTS di Papua bagian Timur berbatasan dengan Papua Nugini. (aya)