Alih Kepemilikan Tanah Bali sangat Menakutkan Dari “Simakrama” dan “Pabligbagan” dengan Bendesa Adat Se-Bali

86

Denpasar (Bisnis Bali) – Peran desa adat sangat penting sebagai garda terdepan menyelamatkan lingkungan desa dari pembangunan yang lebih berorientasi untung tanpa mempedulikan lingkungan sekitar. Desa pekraman juga sebagai salah satu benteng utama di Bali. Taksu Bali salah satunya yang menyebabkan Bali bersinar di mata dunia. Benteng itu ada di desa pekraman. Desa pekraman inilah yang menjadi tulang punggung Bali, dan keunggulan Bali dibanding daerah lain di dunia, khususnya di Indonesia.

Hal itu terungkap pada acara simakrama dan pabligbagan dengan bendesa adat se-Bali yang digelar serangkaian HUT ke-69 Bali Post di gedung Pers Bali K. Nadha Denpasar. Acara yang mengambil tema “Bali Terancam Sekala dan Niskala” ini menghadirkan narasumber Pemimpin Redaksi Bali Post, Nyoman Wirata, mantan Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Dr. IBG Yudha Triguna, ahli ekonomi Gede Made Sadguna, dan Bendesa Kuta, Wayan Swarsa, dengan moderator Adi Predana.
Menurut Wirata, tema ini diangkat tidak lepas dari perkembangan yang terjadi di Bali belakangan ini. “Pada 2006, Bali Post melakukan pemotretan dari udara bahwa Bali bopeng. Artinya lingkungan kita terancam, dan konsep menjaga lingkungan terlupakan,” ujarnya.

Lanjutnya, lingkungan Bali menjadi posisi strategis untuk dijaga demi ajeg dan taksu Bali.
Kemudian, pada 2014 pihaknya menyorot Bali gagal kelola lingkungan, yakni Bali diserbu investor sehingga lingkungan Bali terancam.
“Pada 2015 kami menyorot Bali tinggal satu generasi,” ungkapnya. Katanya, masyarakat Bali terpinggirkan
Oleh karena itu, Bali Post ingin berupaya menjaga Bali dan menumbuhkan perekonomian Bali. “Belum lama ini kami juga mengangkat isu berupa kulkul bulus pertanian Bali, karena hasil pertanian dan buah-buahan 90 persen dipasok dari luar, yakni dari Sulawesi dan NTB,” jelasnya.
Lanjutnya, sistem subak Bali bagus, kenapa Bali tidak bisa surplus. Karena itu, Bali Post gencar menggaungkan penanaman kelapa daksina, mengingat dari data yang ada hampir Rp 1 triliun tersedot untuk upakara Bali. “Kalau itu bisa kita kelola, ketahanan ekonomi Bali akan bisa dijaga,” katanya.

Dalam kaitan pemberdayaan ekonomi dan ketahanan pangan wajib kita cari solusi, sehingga kenapa pihaknya undang bendesa adat. “Karena merekalah yang tahu seluk-beluk masyarakat sehingga betul-betul desa adat memberikan pengayoman untuk penguatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.
Hal senada diungkapkan Dr. IBG Yudha Triguna. “Sebagai orang kampus, apa yang dicemaskan oleh KMB benar adanya,” ujarnya.
Lanjutnya, ada buku yang menyebutkan 20 tahun ke depan akan mengalami kompleksivitas 35 kali. Oleh karena itu mari kita koreksi diri. “Ada 6 yang bisa memenangkan, yakni pendidikan, pengalaman membentuk pendidikan yang baik, yakni seperti pepatah masih mungkin mengambil mutiara di pangkal gigi buaya,” ungkapnya.
Katanya, tantangan besar pasti bisa dijalani asal mau berusaha, sehingga orang Bali harus berani tantangan. Selain itu, dengan cara belajar dari pengalaman orang, kemudian terampil, kreatif, anggung jawab, jujur dan rendah hati.
“Kami berpesan kepada masyarakat Bali, menguasai potensi masing-masing sehingga tidak direbut oleh orang luar,” jelasnya.
Sementara itu, Gde Made Sadguna mengungkapkan, diperlukan militansi kalau ingin melindungi Bali. Masyarakat Bali harus tegas dan tak ada kompromi,” katanya. Seperti tema menjaga kepentingan Bali ke depan yakni ada atau diperlukan persepsi apa kepentingan Bali. “Kepentingan Bali adalah ajeg berkembang dan mandiri berdasarkan Tri Hita Karana,” jelasnya.
Definisi ini penting karena dari sinilah mengukur apakah eksekutif menjalankan swadharma. Begitu juga legislatif harus melakukan swadhama Bali. “Banyak orang yang melakukan demi kepentingan orang lain bukannya kepentingan Bali,” jelasnya. Lanjutnya, bukan alih fungsi lahan yang menakutkan alih fungsi kepemilikan sehingga kita harus tetap menjaga tanah Bali.
“Kini terjadi juga marginalisasi orang Bali secara ekonomi, yakni orang Bali menanam namun yang memetik orang luar. Ini yang harus disikapi ke depan,” tandasnya.

Acara ditutup dengan penyerahan bibit kelapa daksina secara simbolis oleh perwakilan KMB kepada tiga orang perwakilan bendesa adat yang hadir mengikuti pabligbagan. (aya)