Dikemas Jadi  ’’Chasing’’ Ponsel Limbah Kayu Memiliki Potensi Bisnis Menjanjikan    

203
Dengan kreasi, limbah potongan kayu dikemas menjadi chasing ponsel yang bernilai jual tinggi. (man)

Tabanan (Bisnis Bali) – Kabupaten Tabanan yang memiliki potensi seni ukir menjadi celah bisnis bagi sejumlah pelaku usaha untuk mampu mendulang rupiah. Salah satunya mengkemas menjadi karya inovatif dalam bentuk chasing ponsel berbahan kayu. Uniknya, karya tersebut mengadopsi dari bahan kayu bekas (limbah) yang terdapat di sejumlah usaha sekitar.

Salah satu pelaku usaha dari Desa Kuwum Marga, Tabanan yang mengembangkan usaha chasing ponsel dari kayu dengan hiasan ukiran khas Bali, I Wayan Lovayana,  Senin (14/8) mengungkapkan, pihaknya mencoba memanfaatkan potensi yang ada dibarengi dengan upaya untuk melestrikan budaya Bali, dengan berinovasi mengembangkan usaha chasing ponsel dari kayu dengan hiasan ukiran khas Bali.

Paparnya, terobosan dengan mengadopsi kayu limbah ini dimulai dari tesis S2-nya dengan berkeinginan melestarikan budaya Bali, sekaligus merangkul seniman ukir untuk memberi nilai tambah yang lebih menjanjikan.

“Saya berpikiran membuat chasing kayu berukir dengan menggandeng seniman ukir dari Marga serta seniman ukir dari Ubud. Ada beragam motif ukiran, namun semuanya tidak lepas dari nuansa Bali,” tuturnya.

Lovayana menjelaskan, selain beragam motif ukiran khas Bali, produksi chasing ponsel yang diberi label Tattwa Nusantara menyediakan produk untuk semua merek ponsel. Di antaranya, jenis ponsel iPhone, Samsung Note, hingga Samsung Galaxy S. Harga yang dibandrol untuk jenis kerajinan tersebut berkisar antara Rp 350 ribu per unit hingga Rp 750 ribu per unit, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaan.

Akuinya, harga jual untuk chasing ponsel ini memang lebih mahal dari harga pasaran tipe biasanya, karena memang target yang disasar untuk produk yang menggunakan bahan baku dari kayu jati ini adalah menengah ke atas. (man)