Ratusan Peserta Ikuti Gelaran Perdana Pawita ’’Art Festival’’

255
Sekeha Teruna Pancaka Widya Taruna (Pawita), Banjar Palak, Desa Sukawati, Gianyar merayakan HUT Kemerdekaan RI. (kup)

Gianyar (Bisnis Bali) – HUT Kemerdekaan RI tahun ini dirayakan dengan cara yang tidak biasa oleh Sekeha Teruna Pancaka Widya Taruna (Pawita), Banjar Palak, Desa Sukawati, Gianyar. Jika biasanya Agustusan dimeriahkan dengan lomba seperti lari karung, makan kerupuk, tarik tambang, hingga panjat pinang, Pawita merayakannya dengan menggelar lomba tari. Lomba tari untuk anak dan remaja tersebut dibalut dalam kegiatan yang disebut Pawita Art Festival.

Pawita Art Festival digelar selama 3 hari, mulai Jumat (11/8) hingga Minggu (13/8) dan diikuti 217 orang peserta dari seluruh Bali. Saat acara pembukaan lomba, Jumat (11/8) lalu, terungkap even seni ini baru pertama kalinya digelar oleh perkumpulan anak-anak muda Banjar Palak tersebut. Gelaran perdana yang mengambil tema “Satu Rasa Merajut Kebersamaan Melestarikan Seni Tradisi Bali” tersebut mendapat sambutan meriah dari masyarakat.

Terbukti, penonton terlihat berdesakan memenuhi balai Banjar Palak dimana lomba tersebut digelar. Bahkan panitia sempat menolak pendaftara beberapa orang calon peserta karena sudah melebihi jumlah yang ditentukan.

Sambutan meriah tidak hanya ditunjukkan masyarakat, apresiasi juga diberikan Pemkab Gianyar. Wakil Bupati Gianyar, Made Mahayastra yang membuka acara tersebut mengatakan salut atas inisiatif masyarakat Banjar Palak khususnya kaum muda dalam melestarikan kesenian. “Gianyar dikenal sebagai jantungnya seni dan budaya Bali, dan jantungnya seni dan budaya Gianyar ada di Sukawati, jadi ketika panitia datang ke kami meminta restu penyelenggaraan kegiatan ini, kami langsung merespon,” ujar Wabup Agus Mahayastra. Pada kesempatan tersebut, pihaknya meminta agar kegiatan ini tidak berhenti sampai disini, agar berlanjut tahun-tahun berikutnya.

Sementara itu, ketua panitia, I Wayan Gede Aditya Pratita mengatakan, kegiatan ini diselenggarakan dengan harapan generasi muda tetap menjaga dan melestarikan seni tradisi Bali di era globalisasi.

Ditambahkannya, latar belakang diadakannya festival ini adalah meneruskan tradisi berkesenian yang berkelanjutan yang selama ini dilakoni masyarakat Banjar Palak. “Kami beberapa kali mengikuti event seni berskala besar,” ujarnya. Bukti dari pelestarian tradisi berkesenian, salah satunya adalah Banjar Palak memiliki tiga generasi penabuh yaitu anak-anak, remaja, dan dewasa dengan sekaa masing-masing.

Kategori lomba meliputi lomba bapang barong dan makendang tunggal, lomba tari condong, lomba tari baris tunggal, lomba tari truna jaya, dan lomba tari jauk keras. Lomba tersebut memperebutkan Piala Bergilir Bupati Gianyar. Pembukaan lomba ditandai dengan peniupan Sangka (cangkang kerang besar yang mengeluarkan bunyi seperti terompet saat ditiup)  oleh Wabup Mahayastra, didampingi Kadisbud, Gusti Ngurah Wijana, anggota DPRD Provinsi Bali, panglingsir Puri Gianyar A.A.Mayun, panglingsir Puri Sukawati, Camat Sukawati dan ketua panitia.

Sebelum para peserta mulai berlomba, para hadirin disuguhi tarian barong oleh penari cilik Putu Dika. Penampilan gemilang Putu Dika yang berusia belia tersebut memukau para hadirin dan mengundang tepuk tangan meriah.(kup)