’’Jaja Laklak’’ Beraneka Rasa, Lirik Pasar Kuliner

449

SIAPA yang tidak mengenal jaja laklak. Ya, jajanan khas Bali yang satu ini merupakan salah satu kuliner khas Bali, yang masih dilestarikan hingga kini. Menu yang satu ini merupakan menu tradisional. Selain sajiannya dipadankan dengan taburan parutan kelapa dan gula merah, juga dari cara pembuatannya pun masih menggunakan cara yang tradisional yakni, menggunakan cetakan menyerupai penggorengan dari tanah liat. Tidak heran, jajanan yang satu ini masih cukup digemari berbagai kalangan, tidak terkecuali wisatawan mancanegara.

Di Buleleng sendiri, yang kaya akan kulinernya juga tidak ketinggalan akan jajanan yang satu ini. Bahkan, untuk menjaga eksistensi jaja laklak ditengah banyaknya kuliner baru dan inovatif, sejumlah warga masyarakat Buleleng mengkreasikan atau menginovasikan menjadi laklak beraneka rasa.

Seperti di salah satu tempat kuliner dikawasan Desa Pancasari Singaraja, terdapat laklak beraneka rasa, selain laklak berwarna hijau yang sudah dikenal luas ada juga laklak rasa ketan hitam dan laklak buah naga. Sesuai dengan namanya masing – masing, laklak ini memiliki warna yang sesuai dengan bahan yang digunakan. Tidak heran, jajanan ini mampu menarik setiap konsumen yang berkunjung.

I Gede Rena Purdiasa, pemilik warung Djadja laklak beraneka rasa ketika diwawancarai Bisnis Bali Rabu (9/8) siang mengatakan, yang membedakan dari jaja laklak pada umumnya adalah dari tekstur dan rasa. Dipilihnya berbagai rasa ini, selain ingin mempertahankan eksistensi jajanan khas Bali agar tetap dilestarikan juga sebagai bentuk inovasi. “Yang membedakan adalah, jelas rasa dan tekstur, rasa dan pewarna alami seperti yang hijau dari daun kayu suji,yg hitam dari beras hitam atau injin dan yang merah dari buah naga,”ungkapnya.  (ira)