Festival Payangan kembali Dihidupkan

107
Rangkaian pembukaan festival Payangan di Areal Taman Desa Payangan. (kup)

Gianyar (Bisnis Bali) – Sebuah tonggak kebangkitan digalakkan oleh Kecamatan Payangan melalui festival seni dan budaya yang mengambil tema Urip Bhuana. Parade pembukaan ditandai dengan pemukulan kulkul oleh Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Agung Bharata, di Areal Taman Desa Payangan, Senin(7/8) lalu.

Sebanyak sembilan desa yang tergabung dalam kecamatan Payangan ikut terlibat, diantaranya Desa Melinggih, Melinggih Kelod, Kelusa, Bresela, Bukian, Puhu, Kerta, Buahan Kaja, dan Buahan Kelod.

Ketua panitia festival Payangan, Nyoman Dharma mengatakan, festival Payangan digelar bertujuan mengenang kembali sejarah desa Payangan yang dulu saat masih zaman kerajaan sempat berjaya, namun karena suatu dan hal lain sempat mengalami penurunan semangat persatuan dan kesatuan, sehingga menyebabkan Payangan sempat tenggelam dalamberbagai aspek.
“Dua aspek yang menjadi sasaran kami, yaitu segi material dan spiritual. Kami ingin warga Payangan menggalang kembali semangat persatuan, dan keseharian masyarakat sangat kental dengan vibrasi spiritual. Salah satunya dengan cara menghidupkan kembali seni-seni tradisional, beserta budaya lokal yang bergairah,” jelas sekretaris Camat Payangan itu.

Sejauh ini, kata Dharma, aktivitas kesenian di kecamatan Payangan mulai menggeliat untuk bersaing dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Gianyar. Indikasinya terlihat dalam setiap even seni yang ada di Kabupaten Gianyar, kecamatan Payangan selalu mampu meraih juara. Terakhir, saat parade baleganjur dalam HUT Gianyar, wakil Payangan memperoleh juara II di bawah Tegalalang.
“Festival ini berlangsung sampai Sabtu (12/8) nanti, dimulai dari sore sampai malam. Ada kegiatan drama tari, baleganjur, dalang cilik, demo melukis dari para perupa asal Payangan, cak kolosal yang diikuti sekitar 300 orang putra daerah Payangandan banyak lagi kesenian lainnya,” ucap Dharma.

Bupati Gianyar, Anak Agung Bharata meminta agar festival Payangan yang kembali digelar sejak terakhir 2.000 silam ini dapat konsisten diadakan setiap tahunnya. Sebab, semarak yang dirasakan sangat menggembirakan, dan semangat kebersamaan dapat terjalin erat. Dirinya berharap, agar segala kesenian-kesenian yang ada dalam sejarah kecamatan Payangan harus kian digali. Begitu juga potensi-potensi yang ada mesti diasah, dan ditampilkan dalam ajang tahunan tersebut. ”Kegiatan positif ini,saya minta agar rutin ada setiap tahun, saya bangga sekali,” tandasnya. (kup)