’’Work From Bali’’ Mesti Dibarengi Pengawasan Ketat

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno berencana mempromosikan Bali dengan memasarkan paket bekerja dari Bali atau lebih populer dengan sebutan work from Bali.

TUTUP - Seorang pengendara melintas di Jalan Poppies II, Kuta, yang sekitarnya terdapat deretan toko tutup. Sebagian besar toko di Kuta tutup semenjak wisatawan tidak ada yang berkunjung ke Bali karena pandemi Covid-19.

Denpasar (bisnisbalicom) –Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno berencana mempromosikan Bali dengan memasarkan paket bekerja dari Bali atau lebih populer dengan sebutan work from Bali. Rencana ini disambut positif oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa.

Saat dikonfirmasi, Senin (1/2) kemarin ia mengatakan, sejalan dengan program dan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, ekonomi harus tetap jalan namun harus tetap menjadi prioritas di tengah pandemi Covid-19. Dengan itu, pihaknya menyambut positif rencana Menparekraf yang ingin mempromosikan Bali terutama untuk ekspatriat di luar Bali.

Disinggung soal kesiapan untuk Bali menerima rencana tersebut, terlebih dengan tingginya kasus positif Covid-19 yang terjadi setelah libur panjang akhir tahun, Astawa menjelaskan, harus ada pengawasan yang lebih ketat. “Barangkali apa yang diusulkan oleh para pengusaha dan bahkan oleh Pak Wagub (Wakil Gubernur Bali) sendiri mengungkapkan harus ada konsep free covid corridor (koridor bebas covid) bisa diterapkan. Di mana warga negara asing (WNA) yang mau datang ke Bali harus betul-betul sehat dan terseleksi ketat,” katanya.

Sebelum masuk Bali, lebih lanjut dijelaskannya, WNA yang bersangkutan saat memperoleh visa diharuskan untuk memiliki hasil tes uji bebas Covid-19 melalui tes swab berbasis PCR. Demikian sampai Bali sebelum masuk ke hotel juga diwajibkan tes swab kembali. “Jika hasilnya negatif, maka akan diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan ke hotel. Namun jika positif, maka harus ditangani oleh pihak kesehatan terlebih dahulu,” terangnya.

Demikian untuk hotel yang akan menerima wisatawan juga diwajibkan sudah harus tersertifikasi penerapan CHSE (cleanliness, health, safety and Enviroment Sustainability). “Intinya dari internal dan eksternal kita haru siap,” ungkapnya. *wid

BAGIKAN