’’Work From Bali” Harus Direncanakan Matang

Rencana work from Bali bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) sejumlah kementerian wajib diapreasiasi karena hal ini berpotensi memberikan stimulus bagi sektor pariwisata Bali.

Denpasar (bisnisbali.com) –Rencana work from Bali bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) sejumlah kementerian wajib diapreasiasi karena hal ini berpotensi memberikan stimulus bagi sektor pariwisata Bali. Apabila dilaksanakan, program work from Bali tentunya akan menaikkan tingkat hunian hotel di Pulau Dewata yang selama ini sangat rendah akibat pandemi Covid-19.

“Adanya ASN yang memanfaatkan hotel dalam bekerja tentunya akan memungkinkan hotel memperoleh penghasilan untuk menutupi biaya operasionalnya. Selama ini sangat banyak hotel di Bali yang kesulitan menutupi biaya operasional,” kata praktisi ekonomi dari FEB Undiknas University, Agus Fredy Maradona, Ph.D., C.A. di Denpasar, Senin (24/5) kemarin.

Ia menyatakan meningkatnya tingkat hunian hotel juga akan membuka kesempatan bagi pekerja sektor pariwisata untuk kembali bekerja (bagi pekerja yang selama ini dirumahkan) atau bekerja dengan frekuensi lebih tinggi (bagi pekerja yang selama ini bekerja bergiliran karena kebijakan penghematan dari hotelnya).

Ia yang juga Wakil Rektor IV Undiknas University menerangkan, pekerja sektor pariwisata di Bali sangat besar jumlahnya. Oleh karenanya, meningkatnya tingkat hunian hotel pada akhirnya akan dapat berkontribusi bagi perbaikan daya beli masyarakat Bali. “Namun demikian, selain memperhatikan potensi manfaat tersebut, program work from Bali harus direncanakan dengan matang,” jelasnya.

Harus direncanakan matang agar manfaat yang diperoleh lebih besar daripada biaya yang ditanggung pemerintah. Untuk itu, Agus Fredy menyampaikan beberapa hal yang perlu dilaksanakan untuk mewujudkan hal tersebut. Pertama, pemilihan hotel harus tepat dan merata. Pemerintah hendaknya memprioritaskan hotel yang sangat mendesak untuk dibantu. Misalnya hotel milik pengusaha lokal Bali, hotel yang selama ini mengalami kesulitan keuangan yang signifikan dan hotel yang tingkat hunianny sangat rendah bahkan mendekati nol. “Hotel yang karyawannya banyak dirumahkan atau terpaksa bekerja bergiliran serta hotel yang merupakan bagian dari UMKM Bali,” paparnya.

Selain itu, hotel yang menjadi mitra pemerintah dalam pelaksanaan program work from home Bali hendaknya tidak terkonsentrasi atau tidak di satu wilayah saja, tetapi mesti merata dan seluas-luasnya melibatkan hotel-hotel di berbagai lokasi di Bali.

Kedua, sedapat mungkin diupayakan agar kegiatan work from Bali berdampak bagi UMKM di Bali yang selama ini turut bergantung pada industri pariwisata. Contohnya sektor kerajinan, pakaian (kain) tradisional, cendera mata, makanan khas Bali dan semacamnya.

Ketiga, ada wacana bahwa ASN yang mengikuti program work from Bali tidak boleh mengajak keluarga. Oleh karena itu, pemerintah hendaknya memikirkan agar program ini dapat meningkatkan jumlah kunjungan ke Bali meski bukan dari keluarga ASN. Misalnya dari pihak perusahaan partner pemerintah, karyawan BUMN dan pihak lainnya. “Sejumlah industri seperti industri telekomunikasi dan teknologi informasi masih memiliki kapsitas untuk itu karena selama pandemi justru mengalami pertumbuhan,” ucapnya seraya menambahkan perusahaan-perusahana di sektor ini yang menjadi mitra pemerintah hendaknya diminta pula mengikuti program work from Bali.

Keempat, program vaksinasi Covid-19 di Bali hendaknya semakin dipercepat dan diperluas, serta penerapan protokol kesehatan tetap dilaksanakan secara serius. Jangan sampai program work from Bali justru meningkatkan jumlah penduduk yang terinveksi Covid-19. “Dengan memperhatikan hal-hal di atas, saya berharap program work from Bali akan memberikan manfaat yang signifikan bagi perekonomian Bali,” tegas Agus Fredy Maradona. *dik

BAGIKAN