WHDI Badung Gelar Pelatihan Buat Upakara Otonan ”Tumpeng 7”

KETUA Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Badung Ni Ketut Suas Isyudayani, membuka acara pelatihan membuat Upakara Otonan Tumpeng 7 di Gedung Giri Gosana Kantor Camat Petang Rabu (27/11) kemarin.

OTONAN - WHDI Kabupaten Badung menggelar acara pelatihan membuat Upakara Otonan Tumpeng 7 di Gedung Giri Gosana Kantor Camat Petang Rabu, (27/11).

KETUA Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Badung Ni Ketut Suas Isyudayani, membuka acara pelatihan membuat Upakara Otonan Tumpeng 7 di Gedung Giri Gosana Kantor Camat Petang Rabu (27/11) kemarin. Turut mendampingi Sekcam Petang I Wayan Darma, Penasihat WHDI Kecamatan Petang Ny. Kencanawati Sudarwitha, serta narasumber dari Ketua PHDI Kabupaten Badung I Gede Rudia Adiputra dan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung I Gst. Agung Istri Purwati, serta ibu-ibu PKK di wilayah Kecamatan Petang.

Dalam sambutannya Ketua WHDI Badung Ni Ketut Suas Isyudayani menjelaskan, dalam rangka peningkatan srada bakti bagi wanita Hindu di Kecamatan Petang, WHDI Kabupaten Badung setiap tahunnya mengadakan kegiatan pelatihan bagi wanita Hindu khususnya di Kabupaten Badung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan ajaran dalam agama Hindu dalam adat dan budaya Bali. “Kami ingin menggugah rasa memiliki dan rasa bangga sebagai wanita Hindu yang memiliki budaya dan adat, yang terbalut dalam ajaran agama Hindu,” ungkapnya.

Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “Upakara Upacara Otonan Tumpeng 7”. Tema ini diambil, karena banten otonan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari bagi semua ibu rumah tangga untuk mengingat hari kelahirannya sendiri maupun keluarga dan keturunannya secara Hindu. “Di kehidupan bermasyarakat sebagai wanita Hindu selalu berusaha untuk mempelajari dan memperdalam agama, karena semua itu akan kita wariskan kepada para generasi muda penerus bangsa khususnya Agama Hindu,” jelasnya.

Ketua PHDI Kabupaten Badung I Gede Rudia Adiputra selaku narasumber memaparkan, secara umum tentang pengertian yadnya upakara banten sesaji yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, lingkungan pura dadia dan di lingkungan desa adat. Selanjutnya tentang dasar yadnya ada yang disebut Tri Rna yaitu tiga utang manusia di dalam kehidupan, ada Tri Hita Karana yaitu keharmonian hubungan antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan lingkungan (termasuk hewan, tumbuhan, panca mahabutha). Ada tujuan yadnya yang merupakan aspek penting dalam beragama dengan Yajnya Sattwika sehingga umat akan mampu menuju jagadhita dan moksa. “Dimana dalam fungsinya yadnya (korban suci) merupakan sarana bagi umat Hindu untuk memuliakan hidup di antaranya sebagai alat atau sarana menebus rna (utang) kepada Catur Guru, sebagai alat mendaki untuk mencapai kemuliaan di dunia, sorga atau moksa niskala, serta sarana untuk pembersihan diri atau penyucian diri dari ikatan duniawi secara niskala,” terangnya.

Narasumber yang kedua dari Kementerian Agama Kabupaten Badung I Gst. Agung Istri Purwati memaparkan dalam pembuatan banten atau upakara otonan Tumpeng 7 itu terdiri atas (pengresikan, ayaban tumpeng 7, sesayut atma rauh, sesayut pengalang ati, pejati, dan soda untuk ke Surya dan Sang Catur Sanak serta Segeha). Dipaparkan kelengkapan dari upakara Otonan Tumpeng 7 dan memperlihatkan secara langsung contoh banten otonan dengan kelengkapannya agar ibu-ibu tidak salah dalam membuat sesajen atau banten otonan untuk diri sendiri maupun keluarga di rumah. *sar

BAGIKAN