WFB Diprediksi Bersifat Jangka Pendek

PELAKSANAAN Work From Bali (WFB) diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya wisatawan domestik dan dapat menggerakkan kembali roda perekonomian Bali yang mengalami penurunan selama masa pandemi.

Nyoman Sri Subawa

PELAKSANAAN Work From Bali (WFB) diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya wisatawan domestik dan dapat menggerakkan kembali roda perekonomian Bali yang mengalami penurunan selama masa pandemi. Kendati demikian WFB ini diprediksi bersifat jangka pendek mengingat program ini membutuhkan anggaran yang besar.

Rektor Undiknas University Prof. Dr. Nyoman Sri Subawa, S.T., S.Sos., M.M. di Denpasar mengatakan work from Bali memang bagus untuk menggairahkan dan menumbuhkan ekonomi Bali. Melihat pertumbuhan ekonomi Bali selama kuartal I/2021 tercatat terkontraksi minus 9,85 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year). Begitupula dibandingkan dengan kuartal IV/2020 (quarter to quarter), pertumbuhan ekonomi Bali juga tercatat minus 5,24 persen. Pertumbuhan ekonomi Bali menjadi pertumbuhan ekonomi terendah di Indonesia. Sebab pandemi Covid-19 berdampak kepada kedatangan wisatawan ke Bali dan kinerja sektor pariwisata yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Bali.

“Karena itu inisiatif work from Bali merupakan ide yang bagus, tetapi perlu dicermati sampai kapan ini bisa diterapkan karena berkaitan dengan seberapa besar anggaran pemerintah yang akan dikeluarkan,” katanya.

Work from Bali, kata Prof. Sri Subawa diprediksi hanya bersifat jangka pendek yaitu paling tidak menggairahkan dan menumbuhkan ekonomi Bali dari sebelumnya minus. Pihaknya menilai untuk mengembalikan ekonomi Bali perlu jangka waktu panjang. Untuk mendukung hal tersebut paling tepat adalah bagaimana vaksinasi bisa dikejar pelaksanaannya untuk semua masyarakat Bali atau mencapai 70 persen herd immunity. Selanjutnya pariwisata Bali dibuka untuk pasar wisatawan mancanegara dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.

Seperti negara lainnya, maka pembukaan wisatawan mancanegara ketika tamu asing datang tentu protokol kesehatan dilakukan, apakah itu karantina dan lainnya. Ini tentu harus dibiayai oleh negara.

Ia pun menyebutkan pariwisata Bali layak dibuka walaupun sempat dicanangkan ke sektor-sektor di luar pariwisata namun untuk saat ini belum bisa merubah mindset orang Bali yang selama ini terjun di wisata. “Niat masyarakat Bali untuk berupaya pindah ke sektor lain sebenarnya sudah ada, tapi pergerakannya tidak secepat di pariwisata,” ujarnya.

Misal ketika mereka beralih dari pariwisata ke pertanian maka ketika menghasilkan belum tahu mau diapakan hasil-hasil pertanian tersebut. Mereka umumnya kesulitan dalam hal pendistribusian secara cepat mengingat hasil pertanian harus segera didistribusikan. Beda sebelum pandemi masih banyak hotel buka maka hasil pertanian bisa terserap ke hotel atau restoran.

Lebih lanjut Prof. Sri Subawa menekankan tentu pembukaan pariwisata Bali untuk pasar asing dengan beberapa syarat. Termasuk tergantung dibukanya juga negara asing tersebut. Sebab walaupun Bali membuka jika kebijakan negara lain belum buka tentu tidak ada wisatawan yang datang.

Seperti diketahui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi bersama tujuh kementerian/lembaga pada Jumat 28 Mei 2021 menggelar rapat koordinasi kelanjutan nota kesepahaman yang diselenggarakan Indonesian Tourism Development Corporation (ITDC).

Penandatanganan nota kesepahaman antara ITDC dan Kemenko Marves tersebut menandai mulai diimplementasikannya program work from Bali, sebagai bentuk ajakan terhadap para ASN dan BUMN untuk menjadikan Bali sebagai tempat diadakannya aktivitas pekerjaan

Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Nusa Dua Bali menjadi percontohan pelaksanaan work from Bali. menganggap Nusa Dua sebagai tempat yang cocok untuk bekerja jarak jauh karena kawasan itu memiliki manajemen tunggal. Dengan begitu, pengendalian dan pengawasan akan lebih mudah.*dik

BAGIKAN