WFB Dinilai Tak Optimal Serap Produksi Hortikultura

Program Work From Bali (WFB) yang diwacanakan pemerintah pusat dinilai tidak akan berimbas optimal terhadap meningkatnya serapan atas produksi pertanian khususnya komoditas hortikultura.

DIBIARKAN - Tanaman sayur dibiarkan atau tidak dirawat oleh petani akibat turunnya permintaan dan daya beli konsumen.

Tabanan (bisnisbali.com) –Program Work From Bali (WFB) yang diwacanakan pemerintah pusat dinilai tidak akan berimbas optimal terhadap meningkatnya serapan atas produksi pertanian khususnya komoditas hortikultura. Bercermin dari itu pula, sejumlah petani di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, memilih tetap tak mengolah lahan setelah sebelumnya berhenti berproduksi akibat pandemi Covid-19.

Salah seorang petani sayur, Wayan Mustika, Minggu (6/6) kemarin, mengatakan WFB yang dibarengi dengan meningkatnya jumlah kunjungan ASN dari pusat memang akan berdampak terhadap pariwisata Bali. Akan tetapi kondisi tersebut tidak serta-merta bakal berimbas signifikan terhadap sektor di luarnya. Salah satunya serapan hasil pertanian sayur yang selama pandemi Covid-19 sangat jauh menurun akibat turunnya permintaan kalangan hotel dan restoran serta daya beli konsumen.

Menurutnya, lonjakan serapan pasar akan komoditi sayur hanya akan terjadi bila Bali sudah membuka diri untuk kunjungan wisatawan mancanegara.  Kondisi tersebut akan meningkatkan pula  serapan hotel dan restoran sekaligus menjamin harga sayur di tingkat petani menjadi stabil. “Oleh sebab itu, sejak berhenti berproduksi tahun lalu hingga kini, saya memilih belum kembali mengolah lahan atau tetap membiarkan lahan produksi meski ada program WHB,” kilahnya.

Tidak memproduksi sayur dan beralih ke sektor lain juga dilakukan oleh petani sayur lainnya di Candikuning, bahkan jumlahnya hampir 50 persen dari total jumlah petani sayur yang mencapai ribuan orang. Mereka enggan kembali berproduksi karena biaya untuk pemeliharaan cukup mahal, sedangkan ketika dijual harga sayur cenderung murah, bahkan berpotensi tidak terserap pasar. ‘’Oleh karena usaha mereka tidak menjanjikan keuntungan, petani sayur akhirnya banyak beralih sebagai pedagang,” jelasnya.

Mustika mengaku sebelumnya menaman beragam jenis sayur di lahan setengah hektar dan dibudidayakan hampir selama tiga bulan. Selama kurun waktu tersebut dirinya menanggung kerugian biaya produksi sekitar Rp 30 juta. “Biaya cukup besar tersebut untuk kebutuhan olah tanah, pembelian bibit hingga antisipasi hama. Kini, jika ingin kembali berproduksi, tentu harus dipikirkan lagi dan tentunya mengacu pada potensi serapan pasar yang ada,” tegasnya. *man

BAGIKAN