Wayan Sadar, Guide Mandarin Jualan Kue Kering

SEJAK Covid-19 melanda dunia dan Bali pada khususnya, pramuwisata atau guide yang mendapatkan pukulan berat.

SEJAK Covid-19 melanda dunia dan Bali pada khususnya, pramuwisata atau guide yang mendapatkan pukulan berat. Tak jarang, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, pekerjaaan apa saja mereka lakoni guna bisa menyambung hidup. Pukulan akibat runtuhnya sektor pariwisatanjuga sangat dirasakan oleh Wayan Sadar. Pria yang sebelumnya pemandu turis berbahasa Mandarin dari DPD HPI Bali itu turut beralih profesi. Yakni,  menjadi penjual kue kering.

Pria kelahiran Bangli, 1973 itu mengungkapkan sementara dalam masa pandemi Covid-19 berupaya menghilangkan rasa malu dan berupaya menekuni bisnis kecil-kecilan. Ia berjualan kue kering dengan nama Cookies Jealousy. “Kue kering dan creves dijual secara online, dan juga menitipkan di warung-warung jajanan pagi,” tutur dia.

Sadar mengakui, banyak bisnis kecil-kecilan yang bisa ia pilih mulai jualan sate babi di pinggir jalan, jualan ikan di pasar ikan, dan jualan makanan di pasar online. Hanya saja, Sadar menjatuhkan pilihan untuk memasarkan kue kering.

Menurutnya,  bisnis kue kering ini lebih awet dan bisa bertahan lebih lama dibandingkan dengan kue basah yang tahan hanya sehari. Di samping itu, bahan baku kue kering mudah dicari, dan cara pembuatannya lebih gampang dan modal usahanya tidak begitu besar.

Pemasaran kue kering secara online, dan menitipkan di pasar, atau warung-warung jualan jajan. Kue kering yang ia geluti saat ini belum bisa masuk ke kedai kopi. Secara prinsip, bisnis kue kering membuat sesuatu yang bisa dikonsumsi publik. Hanya sesuatu yang bisa dimakan bisa diperjualbelikan di masa pandemi Covid-19 ini. Wayan Sadar melihat perputaran uang  dalam masa pandemi Covid-19 hanya sekitaran kebutuhan pokok saja. Selain itu khusus untuk masyarakat Bali yang beragama Hindu seringkali melakukan kegiatan keagamaan jadi lebih simple dan praktis jajan di banten atau upakaranya bisa menggunakan kue kering ini. “Di kalangan anak muda juga suka ngopi. Pada umumnya disuguhkan kue kering untuk menemani kopinya,” tuturnya.

Menurut  Sadar, beralih profesi dalam masa pandemi karena tidak ada pilihan merosotnya sektor pariwisata Bali berdampak signifikan kepada pekerja pariwisata termasuk guide. “Sebelumnya kami hidup dari profesi guide menghandle tamu Mandarin dan wisatawan asing lainnya,” jelasnya. Sadar menambahkan ia merasakan sangat sulit meninggalkan profesi guide. Ini dikarenakan hasil dari jualan kue kering kelihatan hanya mampu memenuhi biaya dapur karena penjualan kue kering masih dalam partai kecil.  “Kami berharap pandemi corona bisa ditangani. Pariwisata Bali bisa segera dibuka kembali untuk wisatawan mancanegara sehingga kami bisa kembali menekuni profesi sebagai guide,” harap Wayan Sadar. *kup

BAGIKAN