Waspada, Bali Hadapi Tiga Tantangan di Sektor Pertanian

Pertumbuhan ekonomi di Bali bukan hannya tanggung jawab sektor pariwisata, melainkan juga tanggung jawab sektor nonpariwisata khususnya pertanian.

Denpasar (bisnisbali.com) –Pertumbuhan ekonomi di Bali bukan hannya tanggung jawab sektor pariwisata, melainkan juga tanggung jawab sektor nonpariwisata khususnya pertanian.

Pemerhati ekonomi dari KPw BI Bali, M. Setyawan Santoso di Renon, menjelaskan, ke depannya Bali akan menghadapi tiga tantangan di sektor pertanian. Tantangan tersebut yaitu pertama, menurunnya lahan pertanian. Menurut Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Bali, luas lahan pertanian padi di Bali pada 2017 adalah seluas 78,6 ribu hektar. Dengan perkiraan penurunan lahan akibat alih fungsi mencapai 1,13 persen per tahun. Itu sama saja dalam satu tahun terjadi penyusutan lahan seluas 880 hektar (ha).

Kedua, menurunnya jumlah petani. Berdasarkan data Berita Resmi Statistik Provinsi Bali edisi Aril 2019, jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian berjumlah 22 persen. Penelitian yang dilakukan oleh BPS Provinsi Bali menunjukkan bahwa mayoritas atau 39 persen kepala keluarga petani berusia di atas 55 tahun, sedangkan 29 persen berusia 45-54 tahun, 23,10 persen berusia 35-44 tahun, 7,8 persen berusia  25-34 tahun dan hanya 0,55 persen saja yang berusia di bawah 25 tahun.

“Ini artinya, suatu saat jumlah petani di Bali akan menyusut drastis. Salah satu penyebabnya menurunnya minat pemuda menjadi petani adalah tingkat kesejahteraan,” ucapnya.

Tantangan terakhir yaitu belum optimalnya penggunaan  teknologi pertanian. Dengan postur usia petani yang hanya sekitar 30 persen yang berusia di bawah 45 tahun, disertai kondisi sebagian besar atau 55 persen merupakan petani gurem yang memiliki lahan kurang dari 0,5 ha, maka penggunaan teknologi dan digitalisasi pertanian mengadapi tantangan yang tidak ringan.

Ia pun menilai, tantangan di sektor pertanian ini harus bisa teratasi ke depannya. Terlebih sektor pertanian terdampak sangat minim terhadap pandemi covid-19. “Tanpa kita sadari, pandemic covid 19 memberikan peluang bagi sektor pertanian. Dengan menurunnya arus wisatawan masuk ke Bali, dipastikan pembangunan hotel, restoran, rumah singgah, vila dan tempat tinggal wisatawan akan terhenti sejenak. Hal ini seiring dengan upaya pemerintah dalam pengendalian tingkat konversi lahan pertanian,” kata Emsan biasa ia disapa.

Hal serupa dikatakan mantan Rektor Undiknas University, Prof. Dr. Gede Sri Darma. Sebelumnya ia mengatakan, lahan pertanian di Bali harus tetap terjaga ke depannya. Bali dirundung bisnis jual beli tanah untuk pengembangan sektor properti. Bisnis ini tidak lagi hanya dilakoni pengembang lokal, namun juga para pemodal asing.

Efek dari penomena itu jika tak diatasi segera adalah masyarakat Bali hanya tinggal nama. Sebab, tidak ada orang Bali yang punya aset di daerahnya sendiri, yang kemudian akan kehilangan jati diri atau kekhasan Bali.

Ia tidak memungkiri sektor pariwisata agak sulit dipulihkan dalam waktu dekat karena pandemic covid-19 ini belum berakhir. Untuk itu, Bali mesti beralih dan bergeser ke sektor selain pariwisata.

“Pertanian berbasis teknologi menjadi solusi terbaik saat ini. Sektor riil dipacu agar selalu berproduksi, tidak menjadi masyarakat konsumtif,” paparnya. *dik

BAGIKAN