waduh, Permintaan Buah di Petani Lokal Terimbas Corona

Petani buah lokal mulai terdampak merebaknya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). I Made Sianta, petani buah asal Baturiti, contohnya.

I Made Sianta, petani buah asal Baturiti, Tanaman, menjajakan buah lokal

Denpasar (bisnisbali.com) – Petani buah lokal mulai terdampak merebaknya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). I Made Sianta, petani buah asal Baturiti, contohnya. Ia mengaku, penjualan turun drastis setelah pemerintah mengeluarkan edaran agar warga menjauhi keramaian untuk mencegah mewabahnya Covid-19.
“Orderan mulai sepi, semenjak ada imbauan untuk menjauhi keramaian. Orang-orang lebih memilih tinggal di rumah, sehingga berdampak pada harga buah lokal juga anjlok akibat menurunnya pembeli,” katanya.

Dampak dari wabah virus corona ini, dikatakan permintaan turun sampai 60 persen. Ia yang biasa memasok buah lokal ke sejumlah supermarket dan toko buah mengaku penurunan permintaan dari supermarket dan toko buah sangat terasa. Akibatnya ia mengalami penurunan omzet penjualan yang mulai terasa sejak sepekan ini.
“Apalagi dengan dibatasinya seseorang dalam kerumunan, tentu ini berdampak signifikan,” paparnya.

Ia pun menyampaikan, sebelum ada virus corona ini, tiap hari ia bisa memasok 800 kilo gram buah manggis di dua langganan supermarket yang ada di Denpasar. “Setiap hari saya kirim 800 kg manggis ke Moena Fresh dan Tiara. Sekarang sudah tiga hari belum ada orderan lagi,” ucapnya petani dan pengepul buah lokal Bali ini.
Hal tersebut menurutnya membuat harga manggis menjadi anjlok. Sebelumnya, harga 1 kilogram buah manggis saat pasaran normal Rp60 ribu untuk kelas 1, dan Rp40 ribu untuk kelas 2 ini standar ekspor. Tapi sekarang, untuk yang super dijual Rp18 ribu per kilo, dan kelas 2, dijual dengan harga Rp8 ribu hingga Rp10 ribu.

Berbicara omzet, ia mengungkapkan saat kondisi normal sehari bisa memperoleh Rp2 juta hingga Rp3 juta per hari. Sedangkan sekarang ini, menurun drastis bahkan minim orderan. Padahal, biasanya menjelang hari raya Nyepi ini kesempatan baginya untuk meraup keuntungan karena masyarakat Bali mayoritas melaksanakan upacara.“Harapan kami, semoga kondisi ini cepat berakhir hingga kembali normal seperti biasa. Bayangkan baru pembatasan kerumuan sudah ekonomi lesu, jika ada kebijakan lockdown dari pusat bagaimana nasib kami,” pungkasnya.*pur

BAGIKAN